Kamis, 07 Juni 2012

Peran Orang Tua dalam Resiliensi dan Kehidupan Sosial Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus (ABK) menurut Suran dan Rizzo (dalam Mangunsong, 2011) merupakan anak yang secara signifikan berbeda dalam beberapa dimensi yang penting dari fungsi kemanusiaannya. Mereka yang secara fisik, psikologis, kognitif, atau sosial terhambat dalam mencapai tujuan-tujuan atau kebutuhan dan potensinya secara maksimal.  Loretta Claiborne, Helen Keller, Hee Ah Lee atau Ramaditya merupakan beberapa contoh anak berkebutuhan khusus yang telah mencapai kesuksesan dalam hidup. Mampu menemukan bakat dan potensinya serta mampu mengembangkannya hingga membuat orang-orang berdecak kagum atas kelebihan di tengah keterbatasan yang mereka miliki. Potret anak berkebutuhan khusus di Indonesia seringkali tidak seindah itu, autisme, mental retardation, emosional disorder, tunarungu, tunanetra, tunawicara, tunadaksa, tunaganda dan berbagai ketunaan yang lain masih dipandang sebagai aib, diremehkan di sana sini, diolok-olok, dianggap aneh bahkan dikucilkan.
Keberhasilan ABK dalam mengembangkan potensinya tidak terlepas dari peran orang-orang terdekatnya sebagai significant other, terutama peran orang tua dalam mendampingi, mendukung dan membimbing ABK. Namun orang tua sendiri pun pada kenyataannya harus menghadapi beberapa fase sebelum akhirnya bisa menerima keberadaan anak berkebutuhan khusus di keluarga mereka. Fase tersebut meliputi denial (penolakan), bargaining (penawaran), anger (marah), depresion (depresi), dan acceptance (penerimaan). Banyak orang tua yang bertanya “Mengapa harus kami? Apa kesalahan kami? Dan sekarang apa yang harus kami lakukan?”. Hal ini terjadi pada hampir semua orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus ketika pertama kali kekhususan tersebut terdeteksi.
Kenyataan tersebut menjadi alasan bahwa dukungan dan edukasi pun diperlukan bagi orang tua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus sehingga mereka siap membimbing dan melakukan intervensi. Orang tua memerlukan edukasi khusus mengenai coping behavior sehingga proses penerimaan memiliki anak berkebutuhan khusus akan lebih cepat dicapai. Coping behavior menurut Wibowo dkk (2011) merupakan respon individual dalam menanggulangi perubahan dalam hidup. Memiliki anak berkebutuhan khusus merupakan perubahan hidup yang cukup signifikan dalam kehidupan orang tua yang sebelumnya belum pernah memiliki anak berkebutuhan khusus ataupun keluarga yang berkebutuhan khusus. Memiliki anak kebutuhan khusus bisa dikatakan tidak pernah diharapkan oleh setiap orang tua dan ketika mengetahui bahwa anak yang diharapkan kelahirannya merupakan anak yang memiliki kebutuhan khusus, banyak hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi, mulai dari merasa tidak percaya, merasa putus asa, depresi, keretakan hubungan rumah tangga karena merasa tidak mampu menerima kenyataan sehingga tidak sedikit kasus ini akan menimbulkan perceraian antara suami istri.
Terdapat dua macam coping behavior yakni problem focused coping merupakan cara mengatasi masalah dengan berfokus pada masalah itu sendiri dan emotion focused coping yang lebih berfokus pada bagaimana mengelola emosi dan perasaan ketika menghadapi permasalahan. Problem focusing coping melibatkan aspek kognitif dan aspek perilaku, individu diminta menganalisis masalah dan berbagai informasi terkait masalah kemudian merencanakan alternatif-alternatif solusi, mempertimbangkan berbagai konsekuensi dan mencari nasihat orang lain sebelum memutuskan untuk bertindak. Pendekatan emotion focused coping diharapkan dapat mempercepat proses regulasi emosi negatif sehingga dapat menerima kenyataan memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Emotion focused coping dapat dilakukan melalui kegiatan keagamaan yang dapat memberikan ketenangan rohani. Sementara problem focused coping dapat dilakukan dengan mencari akar permasalahan yang terjadi, merunuti penyebab anak mengalami kecacadan, mencoba konsultasi dan sharing dengan orang tua yang juga memiliki anak berkebutuhan khusus terkait regulasi emosi dan begaimana harus menerima kenyataan serta berpikir dan mencari informasi terkait apa yang dapat dilakukan ke depannya seperti penanganan dan intervensi agar anak bisa bersosialisasi dan diterima di kehidupan sosial.
Orang tua yang telah mampu menerima anak berkebutuhan khusus hadir di tengah-tengah hidup mereka diharapkan mampu memberikan dukungan fisik dan psikologis sehingga peran orang tua sebagai significant other yang memiliki tanggung jawab terhadap masa depan anak berkebutuhan khusus dapat dilaksanakan dengan baik. Orang tua memiliki peran yang krusial dalam perkembangan anak berkebutuhan khusus diantaranya dalam resiliensi dan mendampingi perkembangan anak dalam kemampuan kognitif, konatif dan afektif serta kehidupan sosialnya.
Resiliensi menurut Rotter (dalam Truffino, 2011) merupakan kemampuan individu untuk tetap menunjukkan sikap positif secara psikologis ketika menghadapi kondisi yang sangat beresiko. Menjadi anak dengan kebutuhan khusus berarti harus rela dan siap menjadi anak yang berbeda dengan mayoritas anak, menerima dan mencoba bangkit dengan kenyataan yang mungkin cukup membuat terpuruk. Berbagai respon dari lingkungan tidak bisa dikontrol sesuai dengan kehendak sang anak maupun pihak keluarga, dan yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah meyakinkan sang anak bahwa keterbatasannya bukanlah penghalang dalam interaksi sosial, respon dari lingkungan tidak boleh membuat sang anak menjadi down karena setiap anak lahir dengan keunikan masing-masing dan yang diberikan oleh Tuhan adalah yang terbaik bagi umat-Nya serta pasti ada rencana terbaik dari Tuhan untuk anak berkebutuhan khusus. Percakapan dua arah dari ibu atau ayah secara intens kepada anak berkebutuhan khusus dan menciptakan hubungan kedekatan kepada anak membuat orang tua menjadi tokoh yang sangat penting dalam kehidupan ABK yang akan mempermudah dalam menginternalisasikan nilai-nilai positif bagi anak berkebutuhan khusus. Menceritakan kisah anak-anak berkebutuhan khusus yang telah sukses di tengah keterbatasannya, anak-anak berkebutuhan khusus yang telah dikenal dunia sebagai tokoh yang bermanfaat serta berbagai usaha yang harus mereka lakukan bisa menjadi salah satu kebiasaan baik yang mempercepat proses resiliensi ABK terhadap kondisinya dan respon orang-oranng di sekitarnya.
Anak berkebutuhan khusus mengalami kesulitan dalam berbagai hal yang semua itu akan mempengaruhi kemampuannya untuk bersosialisasi (Stephens et al., 2010). Dalam hal ini orang tua mempunyai peran yang penting dalam membangun self esteem maupun self efficacy anak berkebutuhan khusus sehingga sang anak dapat tampil di masyarakat dengan berbagai keterbatasannya. Perkembangan anak dalam kehidupan sosial dapat dilakukan dengan teknik social constructivism dimana ibu maupun ayah dapat membantu ABK untuk mempelajari berbagai hal terkait dengan materi sekolah, melakukan hal-hal yang seharusnya sudah bisa dilakukan anak normal seusianya namun menjadi kesulitan tersendiri bagi ABK serta bagaimana mereka harus tampil dalam kehidupan sosial. Orang tua dengan anak berkebutuhan khusus mempunyai kewajiban untuk memahami kebutuhan khusus sang anak mulai dari penyebab, gejala-gejala yang tampak hingga strategi intervensi. Waktu yang dimiliki olah anak jauh lebih banyak mereka habiskan dengan keluarga di rumah sehingga intervensi akan jauh lebih signifikan hasilnya jika orang tua mampu melakukannya dengan tepat dan telaten misalnya terapi wicara bagi anak tunarungu, latihan membaca bagi anak dyslexia, atau latihan membaca huruf braille dan mengenali berbagai macam benda bagi anak tunanetra. Selain meningkatkan aspek kognitif, latihan-latihan yang dilakukan oleh orang tua akan memberikan dampak positif lain bagi sang anak, ABK akan merasa lebih siap dan memahami potensi yang dimilikinya, dengan kata lain hal ini akan membangkitkan kepercayaan diri sang anak. Membangun kepercayaan diri dan membekali ABK dengan kemampuan kognitif yang dilakukan oleh orang tua membuat sang anak berani tampil menjadi dirinya sendiri di masyarakat, dan hal ini akan mempermudah langkah anak berkebutuhan khusus dalam menjalani masa depannya.
Orang tua sejak awal kehidupan anak berkebutuhan khusus merupakan tokoh yang berperan penting dalam kehidupan anak, penerimaan orang tua bahwa mereka memiliki anak berkebutuhan khusus dan kepedulian orang tua dalam memahami kebutuhan khusus sang anak sangat diperlukan dalam membimbing anak berkebutuhan khusus dalam setiap tahap kehidupannya.


Daftar Pustaka

Derk Stephens, M. S. (2010). Group Counseling: Techniques for Teaching Social Skills to Students with Special Needs. ProQuest Research Library , 509.
Mangunsong, F. (2011). Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Depok: LPSP3UI.
Truffino, J. C. (2010). Resilience: An Approach to the Concept . Rev Psiquiatr Salud Ment (Barc.) , 145.
Wibowo, I., Pelupessy, D. C., Narhetali, E. (2011). Psikologi Komunitas. Depok: LPSP3UI


 

 

           




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar