Minggu, 12 Agustus 2012

Malam Pemberhentian



Yang Terhebat Seluruh Dunia, kisah ini hanyalah sepersekian puluh dari puzzle kehidupanku, ya hanya sepersekianpuluh bagian dari semua cerita mengenai perjuangan, cinta, cita, asa dan segala hal yang menempaku sampai detik ini.
Halaman perhalaman aku tadaburi kembali, tulisan itu, kembali rasa sesak itu membuncah dalam dada

Aku pun manyadari bahwa semua euforia itu membuatku lalai, sungguh terlena, menyia-nyiakan waktu dua tahun kemarin dengan berbagai kesibukan yang aku lebih sering merasakan kecewanya daripada puasnya. Dua tahun disorientasi tanpa rancangan masa depan yang kokoh, dua tahun yang masih penuh dengan kejahiliyahan, kemunafikan. Dua tahun yang lebih sering aku lewati hanya karena prestige, bukan karena Allah, dua tahun yang sering membuatku terhenti di persimpangan jalan, dalam keputusasaan, dalam kebosanan, dalam keletihan, dalam kepayahan, dalam hati yang berduka.

Aku malu pada diriku sendiri, malu pada orang tuaku, pada adik-adikku, malu pada Etos, pada teman-teman,  yang terdalam malu pada Allah, malu atas tabiatku kemarin, malu atas semua kesia-siaan waktu itu

Pengembaraan dua tahun kemarin, pencarian makna hidup dua tahun kemarin. Dua tahun yang membuatku kini berhenti sejenak, memikirkan semua, membuka lembar demi lembar memori yang tersimpan dalam kognitif, membenah skema yang telah lama terbentuk, paradigma, pola pikir, kabiasaan.
Hingga akupun kembali teringat untuk apa perjuanganku, yang kala itu senantiasa terucap dalam tiap kidung doa, terpatri dalam sanubari,
“Ibu, apapun yang terjadi aku akan membuktikan bahwa suatu hari aku akan mampu membuatmu tersenyum bangga melihatku, akulah hasil didikan terbaikmu, sebuah pelajaran hidup yang tidak akan aku peroleh di bangku sekolah manapun. Allah pasti akan membalas kerelaanmu bangun tiap pukul satu dini hari sampai istirahat kembali pukul sepuluh malam demi anak-anakmu, Allah akan memberikan suatu hadiah spesial untukmu Ibu, yang tak ternilai oleh dunia dan seisinya, dan aku akan berjuang untuk membuat bangun pagimu dan seluruh perjuanganmu tidak sia-sia, Bu"

Malam ini aku luruskan semuanya, semua mimpi, semua cita, semua perealisasian rencana, semua kegigihan. Dan ketika lingkungan mendidikku hingga mengenal-Nya, sungguh semua perjuanganku, proposal hidupku aku mintakan persetujuan kepada-Nya, semua hasratku mambahagiakan ibu, semua mimpiki untuk menjadi bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang.

Aku mintakan persetujuan proposal hidupku pada Allah, jika mimpiku ini Engkau ridhoi, memberi kemuliaan dan kebermanfaatan untukku, ibuku dan smeua orang disekitarku, maka kuatkan aku untuk membuatnya menjadi nyata. Namun jika ini justru membuatku menjadi hina dina, maka beri petunjuk-Mu untukku.

Esok permulaan yang baru, setelah proses refleksi dan muhassabah yang panjang, setelah proses me-recharge energi yang sudah lebih dari cukup, saatnya pembuktian itu. Untuk Allah, untuk Ibu, Untuk Ayah, Untuk Clara, Untuk Soqifah, Untuk Cholis, Untuk Zuhri, Untuk Syifa, Untuk Sang Pengejar Matahari, Untuk Pelangi  Jakarta, Untuk Etos  Jakarta, Untuk Etos Nusantara, Untuk segenap manajemen Etos, Untuk Dompet Dhuafa, Untuk para muzakki, Untuk Psikologi, Untuk UI, Untuk Sukoharjo, Untuk Depok, Untuk Indonesia. Sungguh sebenarnya aku harus bertanggungjawab atas semua itu..

Being Manusia Wajib


Menjadi manusia seperti apa, itu adalah  pilihan, ya pilihan, jika B adalah Birth dan D adalah Death maka diantaranya ada C yakni Choice, pilihan untuk menjalani masa di antara kedua keniscayaan tersebut, Choice, pilihan yang harus melibatkan Zat ini sebelum apapun, A yakni Allah.

Memilih menjadi manusia seperti apa mungkin menjadi salah satu dari choice yang sebenarnya sangat mudah jika kita harus melafalkan_melisankan ingin menjadi yang mana, namun sulit jika harus membuktikan dengan perbuatan, karena bagaimanapun, perbuatan_action membuktikan setiap kata yang terucap, apakah hanya seperti terjemahan Q.s As Shoff ayat 2 s.d 3 "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan". Ayat ini yang biasanya ditujukan dalam hal berdakwah, saya pikir bisa digunakan pada kesempatan ini juga. Perbuatan kita harus mencerminkan apa yang kita katakan.

Menjadi manusia seperti apa?
Ini dikutip dari pernyataan EmHa Ainun Najib, bahwasanya manusia dibedakan menjadi empat berdasarkan dampak keberadaannya bagi lingkungan sekitarnya
Pertama. Manusia wajib
Khairunnas anfa'uhum linnas--> sebaik-baik menusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, manusia seperti ini keberadaannya sungguh memberikan ketenangan, memberikan manfaat, keberadaannya dinanti, setiap permasalahan pasti akan selesai jika ia ada, manusia seperti ini sungguh wajib keberadaannya di sisi orang-orang di sekitarnya, keberadaannya dinanti, menjadi wajib, karena jika ia tiada mungkin banyak urusan yang terbengkalai, mungkin akan banyak hati-hati yang menangis, manusia penuh teladan, penuh manfaat, penuh kemuliaan
Inikah kita?

Kedua. Manusia sunnah
Keberadaannya masih dinanti, karena ia mampu memberikan manfaat bagi sekitar, mampu membuat lingkungannya bahagia, namun ketiadaannya bukan menjadi suatu masalah. Menusia ini dimana berada masih selalu memberi teladan, memberi kemuliaan
Inikah kita?

Ketiga. Manusia mubah/ makruh
Keberadaan ketiadaannya bukan hal yang cukup dipikirkan, ada atau tidak orang ini kondisinya sama saja, tak ada kebaikan yang bertambah, semuanya stagnan, tanpa kebermanfaatan, tanpa teladan, tanpa kemuliaan. Manusia mubah/makruh tentunya tidak dipedulikan keberadaannya karena tidak mempu memberikan sesuatu yang signifikan
Inikah kita?

Keempat. Manusia Haram
Keberadaannya sungguh-sungguh dianggap bagaikan suatu kerugian semata, haram. Keberadaannya hanya menambah keributan, menambah kemaksiatan, merusak kedamaian, merusak sistem, membuat banyak hati berduka. Kepergiannya sungguh sangat dinanti, tanpa penyesalan, tanpa merasa dimiliki. Manusia tertolak.
Inikah kita?
Naudzubillah

Choice, pilihan itu ada di tangan kita. Bagaimana kita mendekatkan diri pada Allah agar pilihan yang kita ambil benar. Bagaimana kita melakukan yang seoptimal mungkin, yang terbaik dalam hidup kita hingga Allah menilai kita pantas mendapat pahala-Nya.
Pilihan itu ada di tangan kita, bagaimana kita mampu meyakinkan Allah bahwa kita benar-benar manusia yang berhak mendapat rahmat-Nya
Pilihan itu ada di tangan kita, pilihlah yang terbaik
Buktikan dengan aksi nyata yang terbaik, dengan perjuangan, dengan keistiqomahan

Jumat, 10 Agustus 2012

Perjalanan

menepi dari buih yang berkejaran di tengah lautan 
memisahkan diri dari koloni partikel penyusun kehidupan 
menyepi dari berbagai kegaduhan alam raya 
menyendiri dari kerumunan ambisi makhluk dunia 
berjalan di tepian, mengharu biru bertafakur alam, menikmati liuk daun dimainkan angin,
 kristal embun dipapar siluet mentari pagi 
berjalan di tepian, 
di antara deru dan eksotisnya malam, 
tersenyum pada manusia-manusia malam, 
menyapa lampion raksasa dan ribuan lampu pijar menghias angkasa 
menatap gerobak-gerobak, gedung-gedung pencakar langit, lalu lalang mesin beroda, pengap, sesak kemudian kembali menggigil 
dalam senyapnya malam yang menyembilu 
 berjalan di tengah hamparan padi nan menguning 
menatap mereka dengan sejuta harapan mengenai hari esok

 ini hanyalah proses perenungan 
melihat dunia dari sisi nan jauh, jauh 
berhenti sejenak, sejenak saja 
mempertanyakan mengapa anak-anak itu berhenti sekolah 
mempertanyakan mengapa mereka meminta-minta 
mempertanyakan mengapa mereka hanya makan nasi aking 
mempertanyakan mengapa badan mereka kurus kering
mempertanyakan sebuah elegi kemiskinan 
berhenti sejenak, sejenak saja
 mempertanyakan mengapa ia yang seorang bermobil banyak 
mempertanyakan mengapa masa muda itu dihabiskan di diskotik
 mempertanyakan mengapa ia mempertaruhkan nyawa di arena balap liar 
mempertanyakan mengapa ia membuang-buang makanan enak 
mengapa ia begitu mudahnya bersenang-senang 

mempertanyakan semua paradoks kehidupan 
mempertanyakan mengenai perdamaian 
mengenai kesia-siaan usia 
mengenai semakin sedikitnya kesempatan di dunia 
ini hanyalah proses perenungan 
mencoba merasakan sedihnya, kecewanya, bahagianya, semangatnya, putus asanya hidup 
darimana tahu makna kehidupan? 
dari angin yang meniupkan pengap dan sesak 
dari angin yang menghembuskan kesejukan 
dari angin yang menyibakkan aroma kematian 
dari angin yang menghembuskan keoptimisan 
dari realita dan idealita 
dari perjalanan-perjalanan 
jalan panjang mencapai rumah keabadian

Kabihat

Apa ini?
Disini, hujan masih terus mencurahkan air kehidupannya
Matahari, matahari sudah sedari tadi rehat disebalik gumpalan awan
Dan angin, angin masih senantiasa setia menghembuskan berbagai kabar mengenai dunia, tentang situasi penjuru bumi
Pelangi, Pelangi mungkin masih menunggu gilirannya untuk melukis langit
Berharap cemas akankah hujan dan matahari menghendakinya nampak meski hanya sesaat
Monoton
Tapi hujan tapi matahari tapi angin tapi pelangi
Apa ini?
Mereka bersiklus, dalam tugas penciptaan
Menciptakan gejala alam mahadahsyat
Dalam sekali "Kun"
Lantas "Fa Yakuun"
Dan seluas langit bumi takzim bersimpuh
Sesal, takjub, tergetar, takut
Tapi apa ini?
Tugas penciptaanmu?
Khairunnas anfa'uhum linnas
Sudahkah?
Sudahkah?
Apa ini?
Congkak, Abai, Dusta, Munafik
Tiadakah mungkin esok, lusa
Mungkin detik ini, Izrail itu
Tiadakah kau ingat?
Tiadakah kau ingat?


Rabu, 08 Agustus 2012

Tanya

Sering aku bertanya
Pada malam
yang dengan kepekatannya mencekami dunia
Pada padang bulan
yang menerangi semesta dengan indahnya
Pada fajar
yang menyingsing menguapkan embunnya
Pada siang
yang menyapa peluh insan membanting tulang
Pada lembayung senja
yang berderai mistik dan eksotik
Bertanya akan siapa aku
Tentang tugas penciptaanku
Tentang apa yang aku telah lakukan
tentang pagiku, mudaku, tentang kemarinku
tentang sesalku, sepiku, bahagiaku
tentang siangku, senjaku, masa depanku
tentang rahasia Illahi pada setiap detik menuanya usiaku
tentang catatan sejarah hidupku

Kamis, 02 Agustus 2012

Ramadhan Unik

hei, ramadhan
selain banyak orang yang mendadak rajin tilawah (alhamdulillah), masjid-masjid yang selalu hangat karena anak-anak tadarus sampai pagi, bedug sahur yang meriah, ngabuburit yang bikin suasana sore begitu damai, terkadang dengan suara mercon yang bikin deg-degan, atau kembang api yang indah, nyari buka puasa di masjid kampus yang ngangenin, segala hal tentang ramadhan memang selalu indah (kecuali mercon tapi yaa -_-")
satu lagi suasana ramadhan yang unik adalah jeng jeng jeng,,,,, kerumunan anak-anak SD di setiap mushola buat minta tanda tangan penceramah ba'da tarawih..

buku kegiatan bulan ramadhan, mengingat-ingat 6 tahun lalu kalo nggak salah berisi checklist sholat baik itu sholat wajib maupun sholat sunah, dilaksanakan munfarid ataupun berjamaah, catatan kultum sholat subuh dan ceramah sholat jumat juga catatan ceramah tarawih yang berisi judul dan rangkuman ceramah serta tandatangan penceramah.
Dari awal ramadhan hampir semua mushola menjadi sangat ramai (selain emang ada seleksi alam jamaah tarawih) juga diramaikan oleh kicauan anak-anak yang (biasanya) lebih banyak main-mainnya daripada sholatnya, hehe (*biasa anak-anak --> ungkapan biasa yang seharusnya tidak dibiasakan :P)
Buku kegiatan ramadhan, mungkin dimaksudkan untuk memantau kegiatan siswa selama bulan ramadhan, keaktifannya ketika mengikuti berbagai rangkaian ramadhan yang spesial, berlomba-lomba untuk segera mendapatkan tandatangan penceramah sampai-sampai sholat witir belum elar udah pada stay tune di deretan terakhir jamaah ikhwan, berisik (anak-anak selalu gitu ya? perasaan saya dulu enggak :D)
Secara tujuan baguslah buku kegiatan bulan ramadhan tapi secara praktek? yaa sekali lagi disparitas das sein dan das solen. sering banget ya saya membahas tentang gap antara idealita dan realita? tapi nggak apa-apalah.. sekali lagi mungkin akan dianggap, biasalah anak-anak. tapii nggak baik juga kan membiasakan mereka ambil jalan pintas. maksudnya apa nih? nah jadi gini, ini berdasarkan yang terjadi di daerah tempat saya tinggal, plus pengalaman ketika saya masih kecil, anak-anak yang katanya generasi penerus bangsa itu kebanyakan (meski nggak semua) banyak main-mainnya, tidak mendengarkan penceramah, trus judul serta isi kultum tinggal nyontek. belum lagi si anak udah pergi entah kemana, si buku dititipin sama temen, esok hari ketemuan buat ngambil, atau memaksa kakak/ibu untuk memberikan bocoran isi kultum.
gimana yaa?? yaah mungkin iya bisa dimaklumi sebagai kenakalan anak-anak yang mana ketika mereka beranjak dewasa bisa berpikir, tapii,, nggak bisa disalahkan juga kan kalau kita bilang pendidikan terbaik itu ya sejak dini. bisakah kita kategorikan dengan adanya sikap-sikap seperti itu merupakan penanaman dan pembiasaan tin dakan curang?
yah sekali lagi, peran orang tua sebagai pengendali anak diperlukan dalam hal ini,. nasihat, nasihat dan terus dinasihati, mana yang baik dan mana yang buruk.
karena orang tua adalah yang bertanggungjawab atas anak-anaknya.
#semangat membina :-)

#JogjaIstimewa part1

Entah mengapa akhir-akhir ini mendadak lagu Yogyakarta dari kla Project menjadi soundtrack harian dalam setiap aktivitas,
Jogja, terlepas dari status yang disandangnya sebagai Daerah Istimewa sebagaimana syair-syair dalam beberapa lagu yang diciptakan oleh musisi yang mungkin ‘terlanjur’ jatuh cinta dengan Jogja, terlepas dari julukannya sebagai kota pelajar yang mencerminkan tingginya intelektualitas penduduknya (barangkali), terlepas dari semboyannya “Jogja berhati nyaman” yang mungkin setelah mendengarnya akan menimbulkan sugesti bahwa Jogja itu nyaman atau hati menjadi nyaman ketika berada di Jogja (entahlah):-)

Ya, terlepas dari semua itu, bagiku, Jogja merupakan sebuah kota yang istimewa dan akan selalu istimewa. Ini mengenai jalan juang, mengenai air mata, asa dan berbagai pergolakan dalam jiwa. Sebuah penilaian subjektif, sangat subjektif malah yang untuk mencapai pemahaman terhadap penilaian tersebut membutuhkan imaji tersendiri dan mungkin tidak semua orang akan menganggap hal ini sebagai suatu yang normal, bisa saja dianggap terlalu berlebihan atau justru muncul pernyataan ‘ah kayak gitu sih biasa saja’. Bagiku tidak pernah menjadi masalah, karena ini mengenai jalan hidup yang ditakdirkan-Nya bagi setiap orang, mengenai refleksi masing-masing orang terhadap jalan hidupnya, tergantung seberapa dalam penghayatan orang tersebut terhadap setiap detik waktu yang dilaluinya, seberapa dalam pemaknaan setiap orang terhadap setiap potongan mozaik peristiwa yang terjadi dalam hidupnya yang kemudian dirangkai sehingga terbentuk menjadi fase masa lalu yang kemudian mempunyai arti, menjadi sebuah memoar untuk dikenang, segera dilupakan atau dengan susah payah mencoba di-repress dalam alam bawah sadar, untuk dibagi karena menginspirasi ataupun disimpan untuk dirinya sendiri. Ya, itulah masa lalu.

Jogja, benar saja bahwa selalu ada setangkup haru dalam rindu setiap kali aku mengunjunginya, teringat akan wajah ibu yang penuh restu, wajah ayah yang penuh was-was, melihat sebuah asa akan masa depan yang indah, melihat rasa mengganjal di dada karena kegagalan, ribuan butir peluh dan ritme irama jantung yang berdegup kencang, berbagai air mata penyesalan dan sebuah peristiwa yang mengharu biru atas sebuah kata, berhasil. Jogja, hanya Jogja. Jogja yang telah menjadi saksi bisu akan makna perjuangan bagi seorang anak manusia yang terbatas dalam segala hal (finansial, intelektual), perjuangan akan berbagai kegagalan, perjuangan untuk kembali membangkitkan semangat, perjuangan untuk kembali melanjutkan perjuangan (muter-muter ya?). Terhitung enam kali aku mengunjungi Jogja di pagi buta, berangkat sebelum ayam berkokok (karena mungkin gadis-gadis desa belum mulai menumbuk padi kali ya) dan pulang ketika matahari sudah waktunya mengikhlaskan keberadaannya digantikan oleh rembulan, didampingi ayah terhebat seluruh dunia yang selalu memberikan dukungan penuh terhadap berbagai keputusan yang aku ambil, yang merelakan waktu dan tenaganya untuk mengantarkanku setiap pukul empat pagi, menunggu dengan was-was, menanyai bagaimana tadi dan menyemangati ketika tersirat kekecewaan dari kata-kataku. Di Jogja, lima kali aku berjuang untuk mencapai sebuah cita, berkuliah. Sebelumnya mungkin akan aku jelaskan mengapa aku sangat terobsesi untuk kuliah. Bukan semata untuk mengikuti trend dimana setiap kali lulus SMA baiknya adalah melanjutkan jenjang perguruan tinggi, sama sekali bukan. Aku anak pertama dari enam bersaudara, kedua orang tuaku merupakan pekerja keras demi mencapai hidup berkecukupan (meski dapat dikategorikan kurang mampu), aku menanggung tanggung jawab itu, lima adik kecil yang membutuhkan teladan, membutuhkan penyemangat untuk selalu optimis menjalani kehidupan, membutuhkan jalan keluar dari labirin kemiskinan, membutuhkan alasan untuk selalu berjuang. Bagiku, kuliah adalah jawaban untuk itu semua, dimana aku bisa mendapatkan berbagai wawasan baru mengenai dunia, dimana aku mengenal keoptimisan dalam berjuang yang nantinya akan aku tularkan kepada mereka, dimana aku meyakini akan ada sebuah janji kehidupan yang lebih baik melalui jalan ini.

Kalian tahu kegagalan itu begitu menyakitkan, sangat menyakitkan. Lima kali aku mengikuti ujian masuk, aku gagal. Dan penyesalan atas banyaknya biaya yang telah dikeluarkan kedua orang tuaku demi formulir ujian masuk itu jauh lebih menyakitkan daripada makna kegagalan lulus ujian itu sendiri. Namun bagiku, yang dinamakan hidup adalah ketika telah merasakan kesakitan-kesakitan itu. Kala itu mungkin menjadi dosa terbesarku karena menyia-nyiakan kesempatan formulir ujian masuk dengan semua kegagalan tersebut, merasa bersalah, sangat, merasa tidak berguna dan sangat bodoh, tentu. Namun banyak pelajaran yang aku dapatkan dalam kesempatan itu, bagaimana menjadi rendah hati, bagaimana menjadi pribadi yang fokus, bagaimana berusaha extramiles dan lebih extramiles lagi, bagaimana seorang hamba menghamba kepada penciptanya. Dan aku menyadari suatu hal bahwa hasil tidak selalu liniar dengan usaha, karena disana ada ketentuan Tuhan yang tentu penuh berjuta alasan mengapa harus begini dan begini, mengapa akhirnya harus yang itu bukan yang ini serta mengapa harus melalui jalan ini bukan jalan itu. Makna bahwa Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Dan kegagalan-kegagalan itu, semua perasaan bersalah itu, mendorongku untuk semakin giat, semakin mendekat pada-Nya hingga ujian keenam namaku tercantum dalam sebuah portal penerimaan mahasiswa baru bahwa aku resmi menjadi mahasiswa Universitas Indonesia. Ini cerita mengenai kegagalan terbesar yang pernah aku alami, mengenai rasa bersalah yang sangat, mengenai penyesalan yang mendalam, mengenai kebangkitan dari semua keterpurukan, mengenai semangat baru, mengenai sebuah makna perjuangan, fokus, rendah hati, menghamba pada pencipta, berbaik sangka pada-Nya, mengenai sebuah makna bahwa everything will be okay in the end, if its not okay its not yet the end!

ini adalah Jogjaistimewa part1 ku, nantikan kelanjutan cerita Jogjaistimewa berikutnya ya, masih banyak hal yang membuatku selalu mampu mengatakan bahwa Jogja is wonderful!

Kamis, 07 Juni 2012

Peran Orang Tua dalam Resiliensi dan Kehidupan Sosial Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus (ABK) menurut Suran dan Rizzo (dalam Mangunsong, 2011) merupakan anak yang secara signifikan berbeda dalam beberapa dimensi yang penting dari fungsi kemanusiaannya. Mereka yang secara fisik, psikologis, kognitif, atau sosial terhambat dalam mencapai tujuan-tujuan atau kebutuhan dan potensinya secara maksimal.  Loretta Claiborne, Helen Keller, Hee Ah Lee atau Ramaditya merupakan beberapa contoh anak berkebutuhan khusus yang telah mencapai kesuksesan dalam hidup. Mampu menemukan bakat dan potensinya serta mampu mengembangkannya hingga membuat orang-orang berdecak kagum atas kelebihan di tengah keterbatasan yang mereka miliki. Potret anak berkebutuhan khusus di Indonesia seringkali tidak seindah itu, autisme, mental retardation, emosional disorder, tunarungu, tunanetra, tunawicara, tunadaksa, tunaganda dan berbagai ketunaan yang lain masih dipandang sebagai aib, diremehkan di sana sini, diolok-olok, dianggap aneh bahkan dikucilkan.
Keberhasilan ABK dalam mengembangkan potensinya tidak terlepas dari peran orang-orang terdekatnya sebagai significant other, terutama peran orang tua dalam mendampingi, mendukung dan membimbing ABK. Namun orang tua sendiri pun pada kenyataannya harus menghadapi beberapa fase sebelum akhirnya bisa menerima keberadaan anak berkebutuhan khusus di keluarga mereka. Fase tersebut meliputi denial (penolakan), bargaining (penawaran), anger (marah), depresion (depresi), dan acceptance (penerimaan). Banyak orang tua yang bertanya “Mengapa harus kami? Apa kesalahan kami? Dan sekarang apa yang harus kami lakukan?”. Hal ini terjadi pada hampir semua orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus ketika pertama kali kekhususan tersebut terdeteksi.
Kenyataan tersebut menjadi alasan bahwa dukungan dan edukasi pun diperlukan bagi orang tua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus sehingga mereka siap membimbing dan melakukan intervensi. Orang tua memerlukan edukasi khusus mengenai coping behavior sehingga proses penerimaan memiliki anak berkebutuhan khusus akan lebih cepat dicapai. Coping behavior menurut Wibowo dkk (2011) merupakan respon individual dalam menanggulangi perubahan dalam hidup. Memiliki anak berkebutuhan khusus merupakan perubahan hidup yang cukup signifikan dalam kehidupan orang tua yang sebelumnya belum pernah memiliki anak berkebutuhan khusus ataupun keluarga yang berkebutuhan khusus. Memiliki anak kebutuhan khusus bisa dikatakan tidak pernah diharapkan oleh setiap orang tua dan ketika mengetahui bahwa anak yang diharapkan kelahirannya merupakan anak yang memiliki kebutuhan khusus, banyak hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi, mulai dari merasa tidak percaya, merasa putus asa, depresi, keretakan hubungan rumah tangga karena merasa tidak mampu menerima kenyataan sehingga tidak sedikit kasus ini akan menimbulkan perceraian antara suami istri.
Terdapat dua macam coping behavior yakni problem focused coping merupakan cara mengatasi masalah dengan berfokus pada masalah itu sendiri dan emotion focused coping yang lebih berfokus pada bagaimana mengelola emosi dan perasaan ketika menghadapi permasalahan. Problem focusing coping melibatkan aspek kognitif dan aspek perilaku, individu diminta menganalisis masalah dan berbagai informasi terkait masalah kemudian merencanakan alternatif-alternatif solusi, mempertimbangkan berbagai konsekuensi dan mencari nasihat orang lain sebelum memutuskan untuk bertindak. Pendekatan emotion focused coping diharapkan dapat mempercepat proses regulasi emosi negatif sehingga dapat menerima kenyataan memiliki anak dengan kebutuhan khusus. Emotion focused coping dapat dilakukan melalui kegiatan keagamaan yang dapat memberikan ketenangan rohani. Sementara problem focused coping dapat dilakukan dengan mencari akar permasalahan yang terjadi, merunuti penyebab anak mengalami kecacadan, mencoba konsultasi dan sharing dengan orang tua yang juga memiliki anak berkebutuhan khusus terkait regulasi emosi dan begaimana harus menerima kenyataan serta berpikir dan mencari informasi terkait apa yang dapat dilakukan ke depannya seperti penanganan dan intervensi agar anak bisa bersosialisasi dan diterima di kehidupan sosial.
Orang tua yang telah mampu menerima anak berkebutuhan khusus hadir di tengah-tengah hidup mereka diharapkan mampu memberikan dukungan fisik dan psikologis sehingga peran orang tua sebagai significant other yang memiliki tanggung jawab terhadap masa depan anak berkebutuhan khusus dapat dilaksanakan dengan baik. Orang tua memiliki peran yang krusial dalam perkembangan anak berkebutuhan khusus diantaranya dalam resiliensi dan mendampingi perkembangan anak dalam kemampuan kognitif, konatif dan afektif serta kehidupan sosialnya.
Resiliensi menurut Rotter (dalam Truffino, 2011) merupakan kemampuan individu untuk tetap menunjukkan sikap positif secara psikologis ketika menghadapi kondisi yang sangat beresiko. Menjadi anak dengan kebutuhan khusus berarti harus rela dan siap menjadi anak yang berbeda dengan mayoritas anak, menerima dan mencoba bangkit dengan kenyataan yang mungkin cukup membuat terpuruk. Berbagai respon dari lingkungan tidak bisa dikontrol sesuai dengan kehendak sang anak maupun pihak keluarga, dan yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah meyakinkan sang anak bahwa keterbatasannya bukanlah penghalang dalam interaksi sosial, respon dari lingkungan tidak boleh membuat sang anak menjadi down karena setiap anak lahir dengan keunikan masing-masing dan yang diberikan oleh Tuhan adalah yang terbaik bagi umat-Nya serta pasti ada rencana terbaik dari Tuhan untuk anak berkebutuhan khusus. Percakapan dua arah dari ibu atau ayah secara intens kepada anak berkebutuhan khusus dan menciptakan hubungan kedekatan kepada anak membuat orang tua menjadi tokoh yang sangat penting dalam kehidupan ABK yang akan mempermudah dalam menginternalisasikan nilai-nilai positif bagi anak berkebutuhan khusus. Menceritakan kisah anak-anak berkebutuhan khusus yang telah sukses di tengah keterbatasannya, anak-anak berkebutuhan khusus yang telah dikenal dunia sebagai tokoh yang bermanfaat serta berbagai usaha yang harus mereka lakukan bisa menjadi salah satu kebiasaan baik yang mempercepat proses resiliensi ABK terhadap kondisinya dan respon orang-oranng di sekitarnya.
Anak berkebutuhan khusus mengalami kesulitan dalam berbagai hal yang semua itu akan mempengaruhi kemampuannya untuk bersosialisasi (Stephens et al., 2010). Dalam hal ini orang tua mempunyai peran yang penting dalam membangun self esteem maupun self efficacy anak berkebutuhan khusus sehingga sang anak dapat tampil di masyarakat dengan berbagai keterbatasannya. Perkembangan anak dalam kehidupan sosial dapat dilakukan dengan teknik social constructivism dimana ibu maupun ayah dapat membantu ABK untuk mempelajari berbagai hal terkait dengan materi sekolah, melakukan hal-hal yang seharusnya sudah bisa dilakukan anak normal seusianya namun menjadi kesulitan tersendiri bagi ABK serta bagaimana mereka harus tampil dalam kehidupan sosial. Orang tua dengan anak berkebutuhan khusus mempunyai kewajiban untuk memahami kebutuhan khusus sang anak mulai dari penyebab, gejala-gejala yang tampak hingga strategi intervensi. Waktu yang dimiliki olah anak jauh lebih banyak mereka habiskan dengan keluarga di rumah sehingga intervensi akan jauh lebih signifikan hasilnya jika orang tua mampu melakukannya dengan tepat dan telaten misalnya terapi wicara bagi anak tunarungu, latihan membaca bagi anak dyslexia, atau latihan membaca huruf braille dan mengenali berbagai macam benda bagi anak tunanetra. Selain meningkatkan aspek kognitif, latihan-latihan yang dilakukan oleh orang tua akan memberikan dampak positif lain bagi sang anak, ABK akan merasa lebih siap dan memahami potensi yang dimilikinya, dengan kata lain hal ini akan membangkitkan kepercayaan diri sang anak. Membangun kepercayaan diri dan membekali ABK dengan kemampuan kognitif yang dilakukan oleh orang tua membuat sang anak berani tampil menjadi dirinya sendiri di masyarakat, dan hal ini akan mempermudah langkah anak berkebutuhan khusus dalam menjalani masa depannya.
Orang tua sejak awal kehidupan anak berkebutuhan khusus merupakan tokoh yang berperan penting dalam kehidupan anak, penerimaan orang tua bahwa mereka memiliki anak berkebutuhan khusus dan kepedulian orang tua dalam memahami kebutuhan khusus sang anak sangat diperlukan dalam membimbing anak berkebutuhan khusus dalam setiap tahap kehidupannya.


Daftar Pustaka

Derk Stephens, M. S. (2010). Group Counseling: Techniques for Teaching Social Skills to Students with Special Needs. ProQuest Research Library , 509.
Mangunsong, F. (2011). Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Depok: LPSP3UI.
Truffino, J. C. (2010). Resilience: An Approach to the Concept . Rev Psiquiatr Salud Ment (Barc.) , 145.
Wibowo, I., Pelupessy, D. C., Narhetali, E. (2011). Psikologi Komunitas. Depok: LPSP3UI


 

 

           




Selasa, 29 Mei 2012

Karena Pelangi itu Masih Ada


Namaku Rana, ini adalah cerita mengenai aku dan hujan. Hujan, akhir-akhir ini menjadi sahabat terbaikku. Yang menemaniku bagaimana harus menuliskan apa yang aku rasakan dalam diriku, atau mencurahkan pada Tuhan. Hujan, memang selalu punya makna. Ketika diriku dalam keputusasaan, hujan yang membuatku semakin tunduk dalam munajatku pada Tuhan, hujan yang membuat tangisku semakin deras. Hujan juga yang membuatku bisa merenungi setiap jengkal kehidupan yang telah aku jalani. Namun hujan juga membuat sedihku semakin mendalam. Karena hujan, semesta seolah mendukung dukaku, mengunci keceriaanku bersama mentari yang bersembunyi. Apalagi jika sendiri. 

Sore itu, aku terpuruk dengan diriku sendiri. Dengan kebodohanku yang akhirnya membuat hidupku selalu merasa bersalah. Dengan lelah yang membuatku semakin tidak mengerti akan keberadaanku di sini, untuk apa dan untuk siapa. Aku telah lupa akan mimpi-mimpi yang menjadi alasan untuk apa aku berdiri di tempat asing ini, bukan lagi underachievement, bukan lagi demotivasi, bukan lagi learned helplesness. Aku benar-benar berada dalam titik keterpurukanku, ketika berbagai urusan tidak aku selesaikan dengan baik. Kuliah, organisasi, pekerjaan, ibadah, hubungan interpersonal, nama baik. Ah, aku tak tahu harus mulai memperbaiki darimana.

Rana, aku merindukan Rana yang dulu, yang ceria bagaimanapun kondisinya, yang tetap ramah betapapun sulitnya, yang tegar, yang tegas terhadap diri sendiri, yang mempunyai semangat juang meraih apa yang disebutnya sebagai mimpi, yang dirangkai dalam sebuah kalimat “Rana, sang pengejar matahari”. Dan kini? Kemana matahari-matahari itu, kemana Rana yang dulu? Mengapa hujan dan mendung kini senantiasa menghampirinya?
Namaku Rana, kini aku merasakan lelah yang luar biasa, merasa semua beban aku rasakan sendiri tanpa ada yang membantuku. Tugas kuliah aku rasakan sebagai suatu hukuman atas pilihanku melanjutkan kuliah, tuntutan organisasi kurasakan sebagai sebuah kutukan ketika aku memutuskan untuk mengikuti ini dan itu. Dan mimpi-mimpi itu, ayah dan ibu, sahabat terbaik, mengapa seolah tak bisa membangkitkan semangatku, mereka kehilangan ruhnya, kehilangan makna, menghadirkan kehampaan hati yang menggetirkan, memilukan. Sungguh kemana Rana yang dahulu, kemana?

Dan hujan masih terus turun sepanjang sore ini, menemani renungan panjangku, kontemplasi atas kegagalanku mengendalikan diri, kegagalanku menjaga locus of control internalku, refleksi terhadap kesempatan-kesempatan yang telah aku lewatkan, menyesali ketertinggalanku yang begitu jauh. Dan mendung masih menemani hujan yang bergemericik riuh, deras segan berhentipun tak mau, suasana yang membuat kepiluan ini semakin menjadi. Namun aku tidak akan pernah mau berlama-lama dalam kondisi frustrasi ini, tidak. Tapi bagaimana dayaku, kesedihan ini begitu dalam merasukiku, kegagalan-kegagalan itu. 
Ah ataukah ideal self ku yang terlalu tinggi sementara diriku yang sebenarnya baru seperti ini. Ideal self yang menciptakan gap terlalu lebar yang membuatku depresi? Entahlah

Yang aku tahu, saat ini aku sedang putus asa, aku lelah, aku penat, aku kehilangan matahariku, aku sedang berduka, berduka dengan diriku sendiri. Aku bingung, disorientasi, apa yang harus aku lakukan?
Dan langit masih terus menurunkan air kehidupannya, masih dengan suasana yang sama. Aku tekadkan keluar dari penjara ruangan ini, berdoa di bawah guyuran air hujan, membiarkan air kehidupan itu membasahiku, membasahi jiwaku yang semakin layu, berharap mampu menyirami dan menyuburkannya, merasakan kebebasan, berteriak melepaskan rantai-rantai kepenatan. Dan saat ini, yang aku ingin hanya satu, aku ingin pulang, aku ingin pulang, pulang dalam alam kebebasan, mencari jati diri Rana yang dulu, aku ingin pulang, kalaupun aku tidak mendapati matahari-matahari itu, aku berharap bisa menemukan pelangi. Pelangi yang indah setelah gerimis hujan di hatiku. Karena aku yakin, pelangi itu masih ada, masih ada.


Refleksi Etoser Tingkat Akhir



Mahabbah adalah kejernihan cinta, ia adalah kekuatan, ketinggian, dan besarnya keinginan hati kepada yang dicintai. Karena pertautannya dengan yang ia cinta dan inginkan. Mahabbah adalah keteguhan keingingan kepada yang dicinta. Ia adalah kehendak untuk selalu bersama, dan keengganan meninggalkannya agar sang pencinta bisa memberikan hal paling berharga yang dimilikinya pada yang dicintainya. Yakni hatinya (Ibnul Qayyim Al Jauziah)
Mungkin hatiku memang sudah sedemikian dalamnya terpaut pada komunitas ini, tak peduli berapa banyak orang di luar sana yang akan berkata betapa sempitnya pikiranku, betapa berlebihannya sikapku atau apalah yang aku tak akan pernah mempedulikannya. Setulusnya rasa terimakasih menjadi awal semuanya, ketika berbagai ketidakmungkinan mampu aku patahkan, ketika berbagai ketakutan dan kekhawatiran terjawab dengan satu pesan, “Selamat anda diterima di beastudi Etos”. 

Hari itu, 17 Agustus 2010 sampai hari ini 27 Mei 2012. Bukan waktu yang singkat ketika aku harus belajar berbagai hal yang benar-benar baru, ketika aku harus percaya pada personal adjusmentku bahwa aku mampu menyesuaikan diri, ketika perlahan-lahan aku harus meruntuhkan benteng-benteng egois dan keras kepala yang selama ini terpatri sebagai perlindungan di dalam hati. Ketika aku harus memahami sistem yang sulit aku mengerti mengapa harus begini dan mengapa harus begitu, mempelajari karakter belasan anak manusia yang berasal dari berbagai latar belakang pola asuh orang tua dan pola asuh lingkungan, mempelajari untuk kemudian memahami, yang bahkan sampai hari ini masih terus belajar memahami dan mencoba menempatkan diri di antara mereka. 

Namun waktu satu tahun sembilan bulan ini bukan waktu yang lama ketika aku menyadari bahwa sisa waktuku di sini tak lebih banyak dari waktu yang telah aku lewatkan, ketika hati-hati mulai terpaut oleh rasa saling memiliki. Ketika rasa cinta yang dulu aku sangsikan akan aku miliki kini telah memenuhi sebagian ruang dalam hati. Ketika aku menyadari bahwa masaku di sini akan segera berakhir, dan bayangan bahwa kelelahan-kelelahan yang membahagiakan itu tak lagi dapat aku rasakan di sini seperti hari-hari kemarin, di saat aku menyadari bahwa waktuku untuk memberikan pengabdian terbaik tinggal beberapa bulan lagi sementara sampai hari ini aku belum mampu memberikan apa-apa. Maka apalagi yang bisa aku berikan jika bukan hati ini.

Suatu paradoksal ketika hati mulai bicara mengenai cinta, cinta mendalam dengan lingkungan ini, suasana dalam komunitas ini, berbagai kegiatan yang lalu, dengan orang-orang di sini, dengan sistem komunitas ini namun aku tak mampu menjadi salah satu orang yang dimaksud dalam visi berdirinya komunitas ini “Terdepan dalam membentuk sumber daya unggul dan mandiri”. Rasanya ingin melontarkan rutukan, makian, cacian membodoh-bodohkan diri ini. Betapa banyak waktu yang aku sia-siakan selama ini, puluhan kesempatan yang aku telah lewatkan, usaha yang sangat melelahkan namun tak kuiringi dengan doa terbaik hingga tak membuahkan hasil yang diberkahi-Nya, tekad yang belum sekeras baja, pemberontakan-pemberontakan masa itu yang kini aku sadari sebagai tindakan parokialku yang sangat- sangat bodoh. 

Dan dalam dekapan ukhuwah kita menginsyafi bahwa sebagaimana kemampuan memimpin, kemampuan menjalin hubungan adalah juga paduan dari kecenderungan dan pembelajaran (SAF). Betapa banyak tutur, ekspresi dan tingkah laku dalam kebersamaan yang menimbulkan goresan luka di bagian paling sensitif, hati kalian. Betapa banyak senyum getir makna kesal, dengki, benci, buruk sangka dan perkataan yang tak pantas yang mungkin sampai hari ini masih menyisakan luka menganga di hati kalian. Berbagai kesalahpahaman yang entah kapan bisa terselesaikan. Sungguh aku tak ubahnya manusia hina yang impulsif dan belum sempurna dalam mengendalikan diri. Namun bencilah kesalahanku, jangan membenciku. Karena dalam persaudaraan, kelembutan nurani memberi kita sekeping mata uang yang paling mahal untuk membayarnya, di satu sisi mata uang itu bertuliskan “akuilah kesalahanmu” dan sisi lain berukir kalimat “maafkanlah saudaramu yang bersalah”.

Masih ada waktu sampai Juli 2013 berakhir, ketika hasil SNMPTN dan pengumuman tahap akhir beastudi Etos menghadirkan generasi baru Etos Jakarta angkatan 2013. Waktu yang akan terasa sangat cepat ketika kita kembali bergumul dengan dunia kampus yang menguras tenaga, dengan berbagai kegiatan finansial serta kegiatan bersama untuk masyarakat yang menjadi ciri khas kita. Dan apa resolusi kita untuk satu periode ke depan? FAS? OKE Jakarta 2012? TOENAS 2013? Seleksi Etos 2013? BEE 2012-2013? Itu suatu kontribusi yang niscaya. Yang aku ingin adalah terhapusnya paradoks ini. Ketika kecintaan dengan Etos mampu dibuktikan dengan pengabdian terbaik, ketika pelajaran menjalin hubungan akan terus dipelajari, ketika kita mampu mempersiapkan diri menuju akhir program dengan khusnul khotimah. Ketika kehidupan pasca Etos merupakan pembuktian keberhasilan program, ketika hati ini dengan setulusnya hendak memberikan yang terbaik. Maka ingin rasanya kita dapat menyatukan hati, saling menguatkan untuk memberi pengabdian terbaik, untuk menyatakan cinta dengan cara terbaik, dan aku membutuhkan bantuanmu, kawan.

Bukankah??...... Ah Sudahlah




Ketika itu seorang ibu berkata kepada anaknya sambil sedikit memberi penekanan “Nah Nak, jadilah seperti Mbak i-pod, Mbak laptop, Mbak BB, Mbak Ferrari, Mbak Intan atau Mbak Berlian”
Maka dengan tegas akupun menjawab, “Tidak, aku bukan mereka, mereka bukan aku, Aku adalah aku!”

Kemudian sang sahabat menghampiri dan berkata “Hei, jadi cewek itu mbok ya kayak si Swift,  A, B, C, D, E, F, G, H...”
Sekali lagi dengan tegas aku katakan, “Tidak, aku bukan dia, dia bukan aku, Aku adalah aku!”

Dengan muka yang masih selalu menyebalkan seorang teman pun hadir, “Kamu itu kok !@#$%^&*()_+=-0(*&^^%$$#@#@!. Beda banget sama si Mio”
Dengan santai kata-kataku harus terucap “Tidak, aku bukan dia, dia bukan aku, Aku adalah aku!”

Selalu, setiap saat aku yakinkan pada diriku sendiri, bahwa aku benar dengan caraku sendiri, aku punya jalanku sendiri. Tak perlulah aku mengikutimu, dia atau mereka. Aku cukup paham melewati semua ini, aku cukup tegar menjadi diriku sendiri. Yang aku butuhkan hanya sedikit waktu untuk bicara dengan hatiku, mendengar keluhan dan permintaannya, tak lebih.

Dan ketika kita berangkat dari titik yang sama, dengan impian yang sama, kisah yang sama, usaha yang sama, namun kanyataannya Tuhan lebih membuatmu bersinar, kau telah menggapai bintangmu. Masihkah aku mampu mengucap kalimat-kalimat itu lagi?
“Aku bukan dia, dia bukan aku, Aku adalah aku!”

Ah, pahit, kau tahu! Perih! Jiwa manusiaku belum mampu membuatku menjadi malaikat yang bebas dari rasa iri. Dan apakah aku salah? Bukankah aku juga pantas mendapatkannya? Atau hanya karena kamu lebih beruntung? Ah sudahlah. Bukankah aku cukup kuat menjadi diriku sendiri? Yang akan selalu menjadi yang terbaik dengan caraku sendiri. Aku hanya perlu meyakinkan sahabat terbaikku, naluriku, bahwa ada sejuta jawaban di depan sana, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.
Dan tenanglah sahabat, senyum ini akan tetap tulus aku berikan untukmu. Because you’re deserve of it!



Aku tak Peduli dengan Hari Esok!




Deru suara itu
Berteriak menyeru
Sekarang, atau tidak sama sekali!
Bengis, kejam, mata itu menatapku
Sekarang, sekarang! Tak mungkin ada waktu lagi!

Suara itu semakin menyudutkanku
Dalam suatu titik kritis
Membodohiku, menistakanku
dan akupun tak mengerti harus berbuat apa. Meratap?menyesali diri?

Ah, kalaulah memang esok matahari berhenti bersinar, siapa peduli?
Dan kalaupun esok tak pernah ada lagi, lalu kenapa?
Bukankah keberadaan ini berasal dari suatu ketiadaan?

Ah, tak usahlah risau dengan hari esok,
Kalaupun jiwaku harus meninggalkan raganya
Aku akan terbang menuju keabadian sejati
Lantas apa yang perlu ditakutkan?
Aku tak peduli, sungguh tak peduli!!

Selasa, 01 Mei 2012

Aurora




Pekat gelap dalam keterasingan, menyimpan duka karena tak terjamah
Putus harapan ketika untuk mendekatpun mereka takut
Sedari ia tercipta, hingga kini hidup menjadi sebuah suratan takdir
Takdir kesepian yang menjadi keabadian, di saat kesendirian menjadi kepastian
Ia pun sendiri dalam sebuah konspirasi alam semesta
Menerima takdir sebagai sosok yang mencekam
Di sana, dalam sebuah kenyataan magis yang memilukan
Aurora, spektrum aneka warna meliuk membentuk siluet kuasa Tuhan nan indah
Aurora, sesosok sahabat dalam pekatnya kesendirian
Aurora, sesimpul senyum bagi duka dan ketakutan
Aurora, secercah harapan untuk mengucap syukur atas takdir langit
Sebuah takbir keyakinan dalam semua keputusasaan
Sebuah kesyukuran dalam semua kekecewaan
Sebuah pesona dalam semua kemagisan
Ia, sebuah  keajaiban warna dalam pekat gelap keterasingan