Jumat, 15 Juli 2011

Sebuah catatan di hari Jumat di Pertengahan bulan Juli



Masih dengan semilir angin dari danau dan hutan-hutan di depanku. Berada di bawah agungnya rektorat dengan pemandangan megah perpustakaan pusat baru di sana yang berdampingan dengan sebuah mesjid dimana manusia menghadap Tuannya, bersimpuh melepas lelah dan keluhan kepada Zat yang menciptakannya. 

Masih di sebah sore yang selama beberapa minggu terakhir ini selalu aku agendakan untuk sebuah kegiatan rutin menghadapi sebuah perhelatan besar. Sebuah kegiatan yang aku dipercayakan untuk bertanggungjawab atas semua yang terjadi dan mengkondisikan agar sesuai dengan apa yang aku kehendaki. Latihan teater, sebuah pementasan seni untuk acara akhir bulan ini di kota Gudeg, Yogyakarta. Acara yang akan mempertemukanku dengan saudara se-tanah air yang dengan kuasa Allah kami dipertemukan dalam suatu naungan yang sama. Dalam suatu naungan yang begitu indah dan insya Allah berkah, dalam suatu naungan yang menurutku seharusnya kami mau mengorbankan segala hal untuknya.

Masih dengan kilauan air danau yang diterpa mentari sore dan orang-orang yang telah bebas dari pekerjaannya hari ini, berjalan pulang atau sekedar menikmati udara sore UI yang sejuk, aku duduk disini. tak seperti biasa, aku masih sendiri padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, waktu dimana seharusnya latihan sudah dimulai. kemana mereka??

Hmm, fluktuasi, amplitudo, gelombang, entah dengan kata-kata apa lagi aku harus menyebutnya. Perbedaan pendapat, perbedaan suasana hati, perbedaan prioritas. Terkadang aku berpikir, andai dengan mudahnya bisa merubah suasana hati orang lain, menyamakan dengan suasana hati yang kita inginkan. untuk mencapai apa yang menjadi tujuan bersama, untuk berjuang bersama, untuk terus berkomitmen pada apa yang mengikat kita. Untuk menempatkan loyalitas sebagai the primary values. 

Masih dengan suara derap langkah orang-orang yang hendak menemui keluarganya di rumah setelah seharian mengabdi sesuai bidangnya serta suara sirine kereta dari stasiun di sana, aku masih berharap semoga memang benar bahwa bukan tanpa hikmah Allah berkehendak seperti ini, bahwa memang benar bahwa Allah bisa saja dengan sangat mudah mematikan mereka yang hidup, menghidupkan mereka yang mati, menumpahkan air laut, manggoncangkan dunia, membuat segala hal yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin.

Salahkah jika dari awal aku menempatkan diri dalam suatu kepedulian yang tinggi terhadap kegiatan ini yang sayangnya  membuat yang lain merasa tertinggal jauh dan tidak sefrekuensi denganku?
Salahkah jika aku memilih untuk selalu memprioritaskan hal ini dan berharap yang lain pun melakukan hal yang sama? Yang kemudian jika aku ingin menginternalisasikan nilaiku, masih ada juga yang tidak berusaha memahaminya…

Padahal jika mau menengok dalam hatiku, aku capek, jika tak ada satu kata bahwa Allah telah sangat baik menakdirkanku berada di jalan ini, dimana aku harus melakukan yang terbaik sebagai wujud rasa syukurku, maka mungkin aku akan sangat acuh dan tak peduli.

Allah Ya Rabbi, bimbinglah kami istiqomah di jalan ini
Jika memang ini caraMu mempersatukan kami, maka jagalah kami agar tak pernah melalaikanmu,
bahwa dengan memberi yang terbaik dalam hal ini, itu juga merupakan suatu cara untuk memperoleh keridhoanMu, bimbinglah kami agar senantiasa berharap dan bertawakkal padaMu

Kamis, 14 Juli 2011

Untaian Rindu buat yang Disana


Kalender berubah rangkaian huruf setiap bergantinya malam ke siang, mulai Senin, Selasa, rabu, hingga ke Senin lagi.
Menghitung mulai dari Juli, Agustus, September hingga tak terasa siklus duabelas bulanan itu akan berputar menuju bulan yang sama dengan pertambahan besaran angka di digit terakhir tahunnya.

Hmm, hampir satu tahun aku menjalani kehidupan ini Ibu. Jauh darimu, berjuang di tanah rantau, meninggalkan masa-masa labil anak SMA, bersiap menghadapi dunia nyata, masyarakat, peradaban.
haha, Dan hari itu kini benar-benar aku jalani Ibu

Semua yang engkau ceritakan, engkau berpesan untuk begini dan begini, untuk tidak begitu serta lebih baik seperti itu. Tentang sebuah ilmu kehidupan, tentang sebuah masa dimana engkau katakan dari awal bahwa aku akan mengalaminya, tentang sebuah nasihat, yang mungkin terlahir dari harapan atau kekhawatiranmu terhadapku dalam menghadapinya.

Tentang sebuah bekal kehidupan.

Satu tahun lalu aku masih bisa mengeluhkan masalahku kepadamu, bersandar di pangkuanmu, bermanja-manja denganmu, memintamu menyisir dan mengikat rambutku, sesekali meminta suapanmu dalam makan malamku, berdiskusi tentang pilihan ini dan itu. 

Kini aku merasakan itu Ibu, jauh denganmu, bercengkerama pun jarang, bertatap muka hanya di paruh dan akhir tahun. Kabel maya komunikasi dua arah itu memaksaku hanya mendengarmu, yang justru semakin membuatku tak kuasa menahan rasa ingin bertemu denganmu.
Ibu,kini aku merasakan apa yang dinamakan perjuangan, ketekunan, berbagi, bersikap ramah, dan sungguh-sungguh. Aku mengalaminya Ibu. Yang dengan jatuh bangun selalu aku coba untuk menitinya satu persatu, hingga kemudian aku berharap itu akan menjadi amalan yang memudahkanku meraih mimpiku. 

Dan aku disini seorang diri Ibu, tak ada yang menguatkanku sebagaimana kau dulu selalu menopangku. Tak ada yang melapangkan dadaku sebagaimana engkau melakukannya, membangunkanku ketika jatuh dalam melangkah, menuntunku, membesarkan hatiku. Aku terjatuh Ibu, terseok, sempat terpuruk,dan tak hanya sekali.
Ketika dulu selalu kau ucap bahwa tak selamanya kau akan menemaniku. Tiap kali kuingat bahwa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. tentang nasihat yang setiap saat kau ucap bahwa menebar kebaikan dimanapun aku berada merupakan keharusan bagiku. Tentang harapanmu, doa untukku yang aku yakin selalu engkau panjatkan pada-Nya di setiap nafas yang kau hembus. Kata sayang dan bangga yang senantiasa kau ucap untuk membesarkan hatiku. 

Dan sekarang hampir satu tahun, hampir tiga ratus enam puluh lima hari aku terpisah jarak denganmu. Banyak kutemui pelajaran berharga itu Ibu. Saat dimana aku harus mandiri, harus pandai mengatur waktu, harus bisa berbagi, harus memahami, harus lebih ramah lagi. Saat dimana ada orang yang mengatakanku sombong, keras kepala, sok suci, bodoh. Saat dimana ada yang memujiku cerdas, ramah. Saat tak bisa aku membedakan mana hitam dan mana putih. Ketika aku mencoba untuk memberi apa yang disebut pengorbanan, ketika aku harus dikecewakan, ketika banyak orang yang begitu baik dan begitu menginspirasi, saat dimana aku dibantu untuk membangun dan mewujudkan mimpiku. Saat dimana aku bingung dengan fenomena yang ada, kepalsuan dan kesemuan, kebohongan. Dimana aku harus belajar bagaimana membawa diri, mewarnai bukan terwarnai. Di saat aku akhirnya menemukan jalanku, jalan hidupku di sini. Saat aku semakin nyata menapaki hari dengan sesuatu yang selalu aku coba memberi manfaat.

Aku ingin menceritakan semuanya padamu Ibu, di saat aku beristirahat sejenak di pangkuanmu, dengan belaian manja jemarimu di kepalaku, dengan desir angin yang lembut. Di malam syahdu yang menunjukkan keromantisannya, aku ingin ceritakan itu semua pedamu Ibu. Kemudian ingin kudengar bait-bait nasihat dan pesanmu untuk bekalku berjuang lebih gigih lagi. Aku ingin melepas kepenatan-kepenatan yang membelenggu, mengisi ulang energy kehidupanku, mempersiapkan amunisi untuk kembali berperang, berjuang. Aku ingin ceritakan semua padamu Ibu, yang mungkin bisa membuatmu tersenyum bangga, tersenyum geli ataupun menangis terharu sesuai dengan suasana hatiku. Aku ingin berbagi denganmu Ibu. Meminta bekal untuk mewujudkan mimpiku dan harapanmu.

TKI Riwayatmu Kini


Renita Putri Maharani/ Mahasiswi Fakultas Psikologi UI
Penerima Beastudi Etos Jakarta

Terhitung sejak tanggal 18 Juni 2011 lalu, berbagai media gencar memberitakan eksekusi mati Tenaga Kerja Indonesia asal Kampung Ceger RT 003/01, Desa Sukadarma, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat yang dijatuhi hukuman pancung di Arab Saudi atas kasus pembunuhan terhadap majikannya Khairiyah Binti Hamid Mijlid. Berbagai opini dan sanggahan pun muncul menimbulkan arah pemberitaan yang beraneka ragam, mulai dari pemerintah yang kecolongan karena mendapat kabar pasca eksekusi, perlindungan terhadap TKI yang kurang optimal, tuntutan DPR kepada menteri Luar Negeri untuk mundur karena dinilai tidak mampu menyelesaikan masalah diplomasi terkait TKI, banyaknya kecaman terhadap Arab Saudi dan lain sebagainya.

Tercatat tiga TKI yang telah dieksekusi mati atas kasus hukum yang menjeratnya. Dua orang dieksekusi di Arab Saudi, satu yang lain dieksekusi di Mesir (Republika, 22 Juni 2011). Saat ini masih terdapat 216 TKI yang masih berkutat dengan persidangan demi persidangan tersebar di Arab Saudi, Malaysia, beberapa di Singapura dan Suriah atas kasus pembunuhan dan narkoba. Duapuluh empat dari duapuluh delapan TKI bermasalah di Arab Saudi terlibat kasus pembunuhan yang sewaktu-waktu nasibnya bisa saja sama dengan Ruyati.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, mengapa TKI sampai melakukan tindakan pembunuhan? Terdapat jawaban karena mereka membela diri atau tidak sanggup menghadapi siksaan demi siksaan yang dialami oleh majikannya. Mengapa majikan sampai menganiaya? Hal inilah yang mempunyai berbagai alternatif jawaban. Mulai dari standar kinerja yang mereka tetapkan terlalu tinggi bagi TKI, banyak TKI yang hanya bermodal bahasa Inggris apa adanya dan skill yang kurang memadai, jaminan perlindungan hukum yang tidak jelas baik itu dari negara pengirim maupun negara tujuan, atau perusahaan pendistribusian TKI yang seolah-olah lepas tanggung jawab atas TKI yang dikirimnya.

Secara berulang, TKI seolah-olah selalu menjadi kaum yang jauh dari perlindungan hukum sehingga mudah saja untuk diperlakukan semena-mena. Sebagai Pembantu Rumah Tangga disiksa sebagaimana majikan menghendakinya, sebagai buruh dipaksa bekerja tanpa upah yang memadai. Jika melihat perjuangan mereka yang rela jauh dari keluarga serta perannya dalam menyumbangkan devisa atau pendapatan negara di tiap tahunnya, yang mencapai US$ 7,1 miliar atau sekitar Rp 61 triliun di tahun 2010, TKI seharusnya mendapat perlindungan yang memadai. Memoratorium atau penghentian sementara pengiriman TKI sampai adanya teken kesepakatan atau MoU terkait dengan jaminan perlindungan TKI merupakan langkah yang saat ini tepat untuk dilakukan oleh pejabat diplomasi Indonesia disertai dengan peningkatan standar kualitas TKI oleh menakertrans, BNP2TKI serta perusahaan pengiriman TKI.

Pesan Untuk Kalian Semua




Buat yang tercinta teman-temanku aksel SMANSA SKH angkatan 5, Sang Pengejar Matahariku dan Sobat baruku, Pelangi Jakarta, kalian harus denger ceritaku hari ini (maksa ya?? Enggak kaann? hehe)

Sang Pengejar Matahari-ku (Pelangi Jakarta baca dulu aja yaa n stay cool ^_^), aku kangeenn banget sama kalian, jika diingat lagi, tiap detik dengan kalian bertujuhbelas membuat perasaan bercampur menjadi satu. Kadang senang, bosan, sedih, ajaib kan kita??.

Dan sekarang, kalau diibaratkan busur panah, awalnya kita ditarik menuju satu titik pangkal kemudian dari titik pangkal itu kita melesat ke segala arah. Arahku dan arah tiap-tiap kalian yang berbeda, ke penjuru mata angin akhirnya kita berpisah (untuk sesaat).

Mengenai kesepakatan itu, jika tak mau dibilang janji, bahwa kelak kita akan dipertemukan di masa kita berada di puncak kesuksesan. Semoga bisa segera terwujud yaa.. Dengan cita-cita masing-masing kita, yang memberi manfaat bagi sesama, sukses lahir dan batin yang ga cuma sukses materi aja tentunya.. Itulah tujuan bersama kita, yang semakin memperjelas bahwa kita tidak pernah berpisah. Mengutip pernyataan teman. awal bertemunya kita bukanlah kebetulan melainkan ada maksud dan kehendak baik dari Allah sehingga membuat kita bertemu, pasti ada yang spesial. Sudah menemukan? Jika belum, yuk cari apa yang spesial dari pertemuan kita itu ;-)
Ya, pertemuan kita, jika kata salah seorang teman, masing-masing kita membawa seuntai benang, warna-warni, ada yang merah, hijau, ungu, cokelat, kuning, warna kita saat itu. Kemudian kita mulai merajut, dan perpisahan ini, kalian yang di Surabaya, Semarang, Jogja, Solo, Jakarta, merupakan sebuah fase merajut kita, inilah fase dimana rajutan kita akan mulai menampakkan keindahannya, banyaknya motif baru, karena pengalaman yang bertambah, wawasan yang semakin luas, karena semakin tahunya kita akan nikmat Tuhan. Dan rajutan benang kita, yang kita awali bersama akan nampak pada hari itu, dimana kita akan bertemu nanti, apakah indah atau ada cacat.

Kemudian teringat akan kapsul waktu itu, bahkan sampai sekarang deg-degan sekali aku jika teringat rencana kita untuk membukanya. Semoga Allah masih memberi waktu bagi kita sampai hari itu. Meski lupa apa yang aku tuliskan, dan mungkin demikian halnya dengan kalian, aku yakin pasti ada hal spesial, ada doa spesial yang kalian goreskan di lembaran kertas itu. Terlebih jika mengingat proses kita membuatnya, siang itu, di rumah bernuansa Joglo Jawa itu (rumah siapa ya??) dengan seragam kotak-kotak putih itu dan dengan semua dokumentasi kala itu. ah, membuat butiran air mata saja hal itu, sungguh aku merindukannya.

Sang pengejar matahari, aku yakin kalian tak akan pernah bosan memandang album kita selama dua tahun bersama, berdelapanbelas dalam incubator akselerasi yang semoga membuat kita banyak belajar, banyak merefleksi diri, apa kekurangan yang seharusnya kita perbaiki dan apa kelebihan yang harus kita tingkatkan. Berdelapanbelas dengan berbagai rasa di dalamnya, bahkan mungkin nano-nano pun tak cukup merepresentasikan kita. Ga cukup manis, asam, asin aja kan. Seorang guru disini berkata, dalam menerima orang lain kita harus menerimanya satu paket, dengan baiknya, buruknya, kelebihan dan kekurangannya. Dan Kita bisa menerima masing-masing kita dengan berbegai komponen penyusunnya bukan? Di satu hari itu, buka-bukaan rahasia antara kita (atau kalian ya tepatnya? Hehe)

Satu ceritaku hari ini, aku merasa Allah begitu sayang padaku. Di saat harus berpisah sementara dengan kalian, yang untuk bertemu muka pun mungkin hanya bisa setiap semester sekali dan itupun tidak semua dari kalian. Allah sengaja membuatku untuk tak pernah bisa sedetikpun melupakan kalian. Aku perkenalkan bahwa aku punya sahabat-sahabat yang jika aku melihat mereka seolah aku berada di antara kalian. Di sini aku punya Pelangi Jakarta. Bukan membandingkan, hanya ingin memperkenalkan, hanya ingin bercerita, bukan juga memayakan keberadaan teman-teman yang sekarang bersamaku, bukan menyemukan mana Sang Pengejar Matahari serta mana Pelangi Jakarta, karena bagaimanapun kalian berbeda ruang saat ini, berpisah jarak dan memang Sang Pengejar Matahari bukanlah Pelangi Jakarta ataupun sebaliknya(ribet yach??).

Pelangi Jakartaku yang luar biasa, catatan menjelang satu tahun bersama (meski nama pun baru tercetus beberapa hari lalu) telah mengisi ruang terdalamku dengan apa yang dinamakan keikhlasan, tanggung jawab, idealisme, persaudaraan, kasih sayang yang penuh dengan dinamika. Kita datang dengan warna kita masing-masing, dari budaya, bahasa, karakter masing-masing, kini berada bersama dalam satu naungan bersama. Meski awalnya kita dipaksa untuk bersama tapi kita sendiri jugalah yang memilih untuk bersama, ya kan?(kalau bingung bisa ditanyakan kok ^_^). Aku perkenalkan pada kalian tentang Sang Pengejar Matahariku, yang jika bersama kalian, kenapa yaa, piringan hitam di otakku berputar, terbesit momen-momen di ratusan hari yang lalu yang serupa dengan apa yang aku rasakan saat duduk dan berbincang dengan kalian.

Pelangi Jakartaku yang hebat, yah tidak masalah kan jika kalian tahu tentang sedikit celah di masa laluku, sedikit tahu tentang kenangan terindah di hari kemarinku, tentang orang-orang hebat yang menemaniku di hari-hari yang lalu?
Karena aku percaya akan ketulusan hati kalian, akan prasangka baik yang selalu kalian coba untuk tanamkan dalam diri kalian, sehingga aku memutuskan merangkai kalimat demi kalimat di sela waktuku ini, untuk berbagi, untuk semakin memperkuat usahaku bahwa memang benar, aku hanya ingin bisa dekat dengan kalian, aku ingin mempunyai teman, aku ingin keberadaanku memberi warna yang bisa memperindah hari-hari kalian.
Terimakasih atas kesempatan yang kalian beri untukku menjadi bagian dari fase kehidupan kalian. Fase perjuangan dalam meraih mimpi yang kalian gantungkan. Terimakasih telah membuatku banyak belajar, tentang kehidupan, tentang cita-cita, tentang usaha, tentang optimisme, tentang berbagi, tentang empati, tentang saling memahami, tentang bagaimana menurunkan ego, tentang tanggungjawab yang harus dipikul bersama, tentang instrospeksi diri, tentang merendahkan hati, tentang sesuatu yang baru aku kenal maknanya akhir-akhir ini, tentang ukhuwah.
Dan semoga Allah masih berkenan memberikan kesempatan bagiku untuk banyak belajar dari apa yang ada di sekitarku, dari kalian di esok, lusa dan seterusnya. Untuk menyambut hari dimana aku akan bertemu dengan Sang Pengejar Matahariku dan memperkenalkannya secara langsung dengan kalian. Bersama mewujudkan tujuan memberi manfaat bagi semesta.

Sungguh ini bukan ungkapan kegalauan sesaat, bukan omong kosong yang tak bermakna, bukan hasil dari kegundahan hati, semoga bukan suatu ungkapan yang sia-sia, dan tentunya bukan secara kebetulan aku menulis ini. Tapi inilah hasil dari proses belajar, sebuah pemikiran, dari pengalaman dan pemvisualisasian dari apa yang dinamakan rasa. Aku mempunyai sesuatu berharga dalam hidupku, Sang Pengejar Matahari-ku dan Pelangi Jakarta-ku. Yang membuatku tak punya alasan untuk tidak bersyukur atas nikmat dan karunia-Nya.

Pelangi Jakarta dan Sang pengejar Matahari, Aku adalah aku yang dengan caraku sendiri ingin menjadi lebih baik (sering sekali aku mengucapkannya). Mohon maaf atas setiap detik yang berlalu dengan penuh kesalahan yang aku perbuat, mohon bimbing dengan kritik dan teladan yang baik. Semoga Allah menjaga persaudaraan kita dan mempertemukan kelak di tempat terindah-Nya.


Bom Buku dan Negative Emotional Hijacking

Hari itu Selasa 15 Maret 2011 kediaman Ulil Abshar Abdalla, Ketua Jaringan Islam Liberal dikejutkan oleh sebuah paket buku yang tak biasa. Di hari yang sama kejadian serupa juga menimpa kediaman ketua BNN Komjen Pol Gorries Mere dan ketua Umum Pemuda Pancasila Japto S. Soerjosoemarno Paket mencurigakan yang beberapa minggu ini kita kenal sebagai bom buku. Bom buku yang telah mengakibatkan salah seorang anggota kepolisian di Jakarta Timur cidera di salah satu tangan akibat ledakan yang ditimbulkan dalam pangamanan paket mencurigakan tersebut. Kemudian kita mendengar adanya paket buku berjudul Yahudi Militan yang dialamatkan kepada Ahmad Dhani, presiden Republik Cinta Management sekaligus seorang musisi terkenal di Indonesia.
Agaknya bom buku telah menjadi tren baru dalam mendisturb kenyamanan dan ketenangan di tengah masyarakat. Menciptakan peluang bagi masyarakat terutama para otoritas untuk berpendapat mengenai hal ini, tentu dari sudut pandang yang berbeda-beda. Pendapat yang mencerdaskan namun bisa juga menimbulkan pertentangan. Suatu hal yang biasa namun tak bisa untuk terus dibiasakan jika pendapat tersebut berasal dari negative emotional hijacking alias pengambilalihan fungsi neokorteks untuk berpikir oleh amigdala dalam proses decision making sehingga seringkali keputusan dalam mengahadapi stimulus didominasi oleh emosi sesaat tanpa memikirkan dampak ke depannya. Negative Emotional Hijacking juga sering terjadi pada mereka yang merespon pendapat orang lain, jika tak sesuai kehendak dilakukan penolakan yang lagi-lagi tanpa mempertimbangkan multiplier effect dalam masyarakat.
Tanggal 21 Maret lalu kita mendengar pernyataan dari Nasir Abas yang dimuat di beberapa surat kabar bahwasanya motif dari adanya bom buku tersebut adalah motif agama, terbukti dari sasaran bom tersebut yang berasal dari tokoh liberal yang dinilai mencemarkan citra islam, seorang tokoh densus 88/antiteror serta seorang tokoh Pancasila, para aktivis kebanyakan anti-pancasila menurut mantan Ketua Mantiqi struktur JI tersebut . Lain tokoh lain pula pendapatnya, Pengamat Intelejen Soeripto barpendapat bawa kasus bom buku yang sedang marak bukan dilakukan jaringan teroris karena hanya berupa ancaman bukan eksekusi, merupakan suatu pengalihan isu terhadap kasus pembocoran informasi oleh wikileaks dan merupakan warning bagi Amerika untuk mengembalikan perhatian ke masalah terorisme. Lain lagi pendapat mantan ketua PBNU K.H. Hasyim Muzadi yang menyatakan bahwa konflik atau segala kekacauan di Indonesia yang disebabkan murni oleh motif agama hanyalah 15%. Selebihnya adalah konflik dengan muatan politik, ekonomi, kepentingan kaum profesional oportunis serta motif lainnya.
Pendapat para otoritas umumnya menjadi kiblat berpikir masyarakat. Jika pendapat yang disampaikan merupakan salah satu negative emotional hijacking maka yang tercipta bukan pencerdasan melainkan pemberian informasi “sesat” yang membatasi kemampuan berpikir objektif masyarakat. Indonesia beragam dalam suku, golongan, ras, agama,serta kebudayaan yang rentan akan konflik walaupun dengan pemicu yang sederhana. Pendapat yang objektif, kredibel dan lepas dari unsur SARA dapat menjadi sarana menjaga kondusivitas keberagaman dan memberikan solusi terhadap masalah yang menimpa Indonesia seperti bom buku tersebut. Waspada harus tetap diwarningkan bagi seluruh lapisan masyarakat di samping adanya tindakan dari kepolisian melacak pelaku tindakan onar tersebut. Dalam mengolah informasi masyarakat pun seharusnya tak cukup dari satu sumber, mencari sumber lain untuk melengkapi informasi, memandang konflik yang ada di masyarakat dari berbagai sudut pandang untuk mendapatkan penilaian yang objektif. Karena konflik suatu negara harus diselesaikan bukan justru menimbulkan konflik baru. Termasuk dalam menilai kasus bom buku. Penilaian objektif berbagai pihak akan meminimalisasi terjadinya konflik berkelanjutan.

Renita Putri Maharani
Mahasiswi Fakultas Psikologi UI
Penerima Beastudi Etos Jakarta
Peserta Student Development Program Universitas Indonesia

Mencintaimu dengan Sederhana, Hanya Sederhana


Bukan puisi yang aku rangkai untuk menyatakan indahnya rasaku padamu.
Bukan sikap yang senantiasa halus dan setuju dengan setiap yang kamu katakan dan kamu lakukan.
Bukan pula dengan sikap selalu mengatakan iya dengan apa yang kamu minta, atau mengulum senyum di setiap langkah yang kamu tempuh.
Mungkin dengan pembawaanku yang tegas dan keras yang membuatmu segan mendekat.
Mungkin dengan terlalu serius dan kaku ekspresiku membuatmu enggan menghampiri hatiku.
Kekurangpedulian yang mungkin tampak dari diriku yang membuatmu semakin menjauh.
Atau karena banyaknya permintaanmu yang selalu aku anggap sebagai rengekan kegalauan hingga selalu kucari alasan untuk mengatakan tidak.
Atau waktu yang selama ini seolah tak pernah aku luangkan untukmu
Jika kau mau, lihat sedikit lebih dalam ke diriku
Aku sediakan pundak untukmu bersandar dalam kelelahan,
Aku berikan telinga tanpa bayar untuk mendengar keluhanmu
Mendengar ceritamu, baik dikala kau bahagia atau bersedih
mendengar mimpi yang kau ucap, apa yang menghambat
Aku bersedia menangis bersamamu, meluapkan segala rasa yang menyesakkan
Tulus aku coba untuk menerimanya

Mungkin solusi yang kau harapkan belum bisa aku berikan,
ketahuilah bahwa ingin rasanya aku bisa menyelesaikan setiap masalah yang menimpamu
dengan ilmuku, pengalamanku, dengan saran dariku
Tapi aku, aku pun punya sakit dari luka yang dalam
yang selalu aku coba untuk menutupnya rapat-rapat
Kemudian aku refleksikan, jika aku beri nasihat padamu,
Aku malu, malu sekali
kemunafikan apa lagi yang aku lakukan

Selasa, 14 Juni 2011

Ayam Penyet Special di Minggu Pagi yang Indah




Oke, aku tepati janji buat bawain kalian semua makanan (patungan sama Riri sih, hehe). Kita sarapan bareng pasca lari-lari pagi, hehe
Ehm, tercetus dari usul temen tentang pendekatan efektif untuk mencapai visi yang sama akhirnya agenda Minggu pagi tanggal 31 Mei 2011 tersebut ada.
Hmm, janji jam setengah tujuh (sebenarnya sengaja dibikin sepagi itu buat mengantisipasi molor waktu karena pada ngaret sih). Rencara acara paling enggak ya jam 8 sampai menjelang dhuhur lah.
Wuaa tigapuluh menit menjelang pukul 8 belum pada dateng. Gimana nih (Kata Emak Wewin)..
Sip lah menunggu, akhirnya pada dateng juga..
Yaudah deh kalian lari aja dulu entar gantian kita, kata Riri. “Eh, kita belum beli makanan, Neng” kataku. “O iya, yaudah yuk, beli. Amar pinjem motor ya”. hehe biasalah kita pinjem2 motor mereka.
Sesampai di tempat “Beli apa ni Ri? Nasi bungkus atau apa”.Bingung, bingung, bingung akhirnya “Oke deh Ri, ayam penyet aja!” Kataku. “Dimana?”. Karena udah pernah beli langsunglah aku tunjuk kios Ibu yang jual ayam penyet itu.
Sip 13 bungkus ayam penyet sekaligus dua botol air mineral jumbo udah ditangan. Yo Cabut!! Balik deh. “Eh dimana?”. Crystal of Hedonism! Oke paham. Menuju Fasilkom daannnn,, eh eh, parkir dimana ni??. Muter-muter daannn,,, akhirnyaa..
“Lama ya?? Aduh maaf yaa”
Dan, haha. Ayam penyet bumbu special, . Wua mantap pedes Bro. Sengaja ya re? Tanya siapa yaa, lupa gitu. Hihi maaf ya kalo pedes..Ga mungkin lah kalo sengaja, aku kan ga suka pedes..
Ehm, sebenarnya ni nulis arahnya kemana sih ga jelas banget..
Ayam penyet special di hari yang indah. Diawali dengan makan ayam penyet dengan cabenya yang bikin lidah, hidung, kuping, kerongkongan, sampai perut panas. Aku dapat deh wajah-wajah kepedesan kalian, sebuah ekspresi yang lucu abis, yang selalu jadi gambar hot di album-album kenangan gitu. Jadi inget dulu SMA, pas makan bebek penyet dan ayam bakar bareng-bareng dan pada kepedesan, hehe
Ayam penyet special di Minggu pagi yang Indah, Judul yang bagus bukan?hehe. Oke2. Well sebenarnya yang mau aku bilang disini adalah
Terimakasih atas waktu yang udah kalian luangkan untuk hari itu
Terimakasih atas senyum yang terpancar di wajah kalian hari itu
Terimakasih atas kerelaan kalian sharing caring all about yang kalian rasain, pesan kesan dan harapan di hari itu
Terimakasih buat kritik, saran dan solusi yang didapat bareng-bereng di hari itu
Terimakasih buat kata komitmen yang terucap di hari itu
Buat nama Pelangi Jakarta yang tercetus hari itu dan awal yang baik buat TENs serta segala kegiatan ke depan yang lebih baik lagi
Ayam penyet special mengawali Minggu pagi yang indah. Gambar-gambar yang diabadikan semoga menjadi semacam reminder peristiwa itu. Yang semoga juga dijadikan sebagai rangkaian salah satu bab di novelnya Ilham (?) sehingga terabadikan, serta rangkaian upaya memperbaiki diri bagi kita semua.




Senin, 13 Juni 2011

Semoga Bukan Luapan Emosi Belaka




Sobat cewekku semua, sobat wanitaku, akhwat-akhwat atau perempuan-perempuan, kaum hawa yang hebat dan luar biasa. Mau berbagi nih, hehe. Tergelitik tiap kali mengingat perkataan temen bahwa “sesholeh-sholehnya cowok, sealim-alimnya cowok (baca:ikhwan) tetep aja mereka punya setitik hati yang busuk jika sudah berkaitan dengan wanita”.

Karena menurut gue perkataan itu multi interpretasi, gue tanya lah ia, ‘maksudnya?’. Terus apa jawabnya? Seperti ini kawan, “Iya, cowok itu ya, walaupun pengetahuan agamanya banyak, terus udah bertemen lama ni dengan kita para akhwat, lama-kelamaan jadi sok-sok perhatian gitu, kata-katanya jadi dihalus-halusin, dipuitis-puitisin, dan melangkah lebih berani lagi. Ngomongin ini lah, itu lah, ga penting.Oke ga masalah kalo dia masih cowok sekuler,nah ini ikhwan”.

Zzzz,, hehehe, lucu juga ya. Oke, kala itu gue mangut-mangut aja, antara setuju dan tidak (maklum belum pernah berpengalaman berteman dengan ikhwan, tapi kalo cowok sekuler banyak, hehe) mencoba mencerna dan menelaahnya lagi, cari bukti lain dan cari pendapat orang lain. Akhirnya bertemulah dengan seorang senior yang akhwaatt banget, yang in syaa Allah pengetahuannya belasan kali lipat deh dibandingin gue, hehe. Memutar otak untuk bertanya hal yang menyerempet-menyerempet itu lah.. Apaa yaa… Aha! Yeah, I get! Hehe, oke, menyusun pertanyaan yang terkesan agak basa-basi, hehe.

“Ehm Kak, kenapa sih wanita ga boleh melembutkan suaranya ketika berbicara di depan laki-laki?”

Seperti yang udah gue ekspektasikan, beliau menjawab “Menjaga agar tidak membangkitkan syahwat laki-laki”

“Hanya mendengar suara pun mereka bisa bernafsu?”

“Iya, bahkan pernah ada cerita bahwa ada laki-laki yang melihat sandal wanita aja trus dia jadi deg-deg an”
Whaatt??? Cowoookkk??? Sebegitunyakah???
Waduh. Kemudian memori berputar nih, kayak pernah denger juga ada yang bilang kalo imajinasi cowok itu luar biasa hebatnya. Bisa saja akhwat yang berjilbab gondrong diimajinasikan berjilbab pendek, apalagi yang berjilbab pendek. Naudzubillah..

Then ask “Tapi kenapa cowok kayak gitu, berarti itu mengusik hidup kita sebagai cewek banget dong??”

Ada jawaban “Yah karena memang cewek sama cowok diciptakan berbeda, dan akal kita sebagai cewek pasti ga bisa menerima kenapa cowok begitu, karena kita memang bukan cowok. Coba deh kalo cewek liat cowok ganteng ya udah cukup ooh ganteng. Nah kalo cowok, liat cewek cantik ya udah ayo deketin”

Asli deh, semakin ilfill aja diri ini sama cowok. Kalo masa lalu ilfill sama cowok karena kebanyakan playboy, banyak bikin cewek nangis, apalagi yang sok ngerasa kegantengan dan berkharisme, hoek. Sekarang ilfill deh sama cowok yang ternyata begitu lemahnya jika dihadapkan dengan wanita. Wuaa belum lagi cowok alay, lebay kata-katanya nge gombal sok puitis muji-muji orang. Aduh ga penting banget deh,. Banyaknya cowok cengeng, terlalu berperasaan, terlalu memohon, curhat sama cewek, hancur lah hatinya, ga punya semangatlah, idiiihh ga banget deh.. Dan yang disayangkan lagi, ga cuma cowok sekuler yang kayak gitu, ikhwan cengeng dan alay ternyata masih ada juga (haduh jadi sedih deh).

Sebel banget pas pulang agak larut di tanyain, akhwat kok malem2 gini baru mau pulang? Berani pulang sendiri ga? Hati-hati ya! Mau ya saya anter, cuma diawasin dari belakang kok.Terus pas liat para cewek bawa beban agak banyak mereka bilang “Sini biar saya saja, masa cewek bawa barang berat dan banyak gini” Belum lagi pas ngelakuin kegiatan yang agak ekstrem, katakanlah panjat tebing “Hei cewek kok gitu sih, nanti jatuh lho”, disaat lagi debat tiba-tiba berkata “ya udah deh ngalah sama cewek, ga tega kalo entar nangis”. belum lagi SMS malem-malem “udah pulang belum, udah makan belum, makan yaa, jangan sampai sakit” ”Ukh, bangun yuk tahajud” diembel-embeli puisinya yang sok merdu. Adduuuuhhh plisss deehhh… Cewek itu luar biasa hebatnya Boy!!!! Bukan untuk dikasihani atau dianggep lemah, atau diluluhin dengan puisi yang sok ngegombal itu. Kalo kami nglakuin itu ya karena kami yakin bisa, dan ga usah sok nginget-ngingetin dengan bahasa yang alay deh!

Udah-udah jangan kebawa emosi, hehe peace ya cowok2. Yah walaupun dari subyektif pengalaman sih, tapi kn pengalaman yang umum, hehe.

Ehem, kemudian berpikir. Wah untung ya Islam memerintahkan wanita berbusana yang syar’i, baju longgar,jilbab lebar, pake rok dan kaos kaki. Coba kalo enggak? semakin membuat imajinasi para cowok melayang deh (astaghfirullah), mengatur kalo wanita ga boleh bermanja-manjaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya, serta untuk menjaga pandangan.

Kalo mikir lagi jadi bertanya ni, aduh suami gue besok kaya gimana ya. Ikhwan alay kah, lebay kah, cengeng kah??(dan ga kebayang kalo misalnya iya, aduh mending kagak usah punya suami deh kalo dapatnya yang alay bin cengeng, hehe).

Cowok tu mbok ya yang kuat,tegar,bijaksana,kata-katanya pun tegas dan ga manja,boleh sih berpuisi dan romantic,tapi jangan diumbar dimana-mana, cukup buat istrinya aja. Cowok tu ya yang bisa memimpin, bisa mengatur, mandiri, punya prinsip dan pendirian yang kuat, yang disegani dan bisa menyelesaikan masalah, seperti sosok Mas Azzam nya KCB deh minimal, hehe jika belum bisa seperti sosok Rasulullah.

Bukan menuntut sih,tapi yah berbagi saran aja, biar tak semakin banyak wanita yang terlena dengan pujian dan perhatian kalian, biar ga banyak hati yang terjatuh, dan biar cewek bisa mengaktualisasikan dirinya menjadi sosok yang hebat tanpa kalian perlakukan dengan manja:-)



Jumat, 06 Mei 2011

Niscaya


A



B


C



Selamanya itulah abjad pertama, kedua dan ketiga

1

2

3

Itulah urutan angka

Jumat, 18 Maret 2011

Aku ingin melihat pelangi

aku ingin melihat pelangi
yang darinya aku paham keragaman itu indah
aku ingin melihat pelangi
yang bisa hibur hati setiap insan
warna-warni nan indah yang kan ingatkan ku pada suatu ketika
pelangi oh pelangi
kau tak muncul?
tak tau kah kau bahwa aku sangat mengharap kedatanganmu
saat ini
untuk warnai hati yang sedang sendu
untuk temani jiwa yang sedang rindu
untuk beri ketenangan
demi ciptakan senyum yang kumau
Sore ini Tuhan telah menumpahkan air keberkahannya
Yang membuat diri ini sempat dalam kurung perenungan
melihat jatuhnya setiap tetes air langit
Aku menikmatinya, sangat menikmati
Setelah sekian lama lelah dalam peraduan
Kusempatkan bersama dengan gemuruh jatuhnya dan dingin yang dibawanya
Aku berada dalam lingkaran perasaan yang tak tahu bagaimana aku ungkapkan
Kerinduan yang mendalam pada mereka
pelangi, melihatmu bagai kulihat mereka disana
yang tak tahu kapan lagi bisa dipertemukan bersama
melihatmu bagai kubersamai mereka
dalam senyum bahagia dan hangat kasih sayang
Tuhan, tunjukkan pelangi itu
Untuk hati yang tengah merindu

Kamis, 10 Maret 2011

:-(


Amanah, amanah…

mencoba untuk memegang dan melaksanakannya sebaik mungkin namun apa daya jika banyak sekali hambatan

Mencoba untuk senantiasa bertanggung jawab tapi seakan semuanya sulit, tak terjangkau

andai satu hari ini dapat kuselesaikan semuanya sampai tuntas

namun tak semua sumber daya yang aku butuhkan mendukungku

oh Amanah

dan jika malam ingin kulahap habis semuanya, mata dan raga tak mau berkompromi

Allah, kalaulah tak kau izinkan aku terlalu banyak memegang semuanya, jangan buat aku seperti ini

akan lebih hancur aku karena menanggung malu sebagai orang tak bertanggung jawab daripada harus tertimpa batu di kepalaku

Allah, aku ingin melakukannya karenaMu namun belum pernah ada ketenangan menikmati hasilnya

apakah niatku belum tulus juga?

Senin, 21 Februari 2011

TOENAS. Try Out etos Nasional merupakan simulasi Seleksi Masuk Perguruann Tinggi Negeri yang sebenar-benarnya simulasi. serentak di 9 kota di Indonesia dengan target 30.000 peserta. TOENAS tak hanya memberikan try Out tetapi juga membangkitkan kepekaan sosial dimana kalian semua para peserta akan menjadi relawan TOENAS pduli pendidikan.....

Minggu, 20 Februari 2011

ObNis…. Obrolan manissssss

Malam ini bincang-bincang dengan temen. Share ilmu gitu lah ceritanya.

Subhanallah banyak banget yang didapet, pertama tentang perkataan salah satu dosen di seminar yang diikuti temenku itu. Menarik sekali, beliau berkata bahwa what do you think is what you do is who are you. Sebuah formula bahwa perilaku itu sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Contoh sederhana yag bisa dibuat tadi sih tentang mahasiswa yang mempunyai nilai jelek di salah satu mata kuliah dan dalam pikirannya mengatakan bahwa ‘wah pelajaran ini memang sulit, kalo aku belajar pun entah bisa entah enggak’ maka perilakunya akan menjauhkan ia dari belajar yang efektif sehingga sekeras apapun ia belajar tetap dirasa sulit, hasilnya ia menjadi mahasiswa yang lemah di mata kuliah tersebut. Padahal jika ia mau berpikir positif sedikit saja, maka semuanya akan berubah.

Kedua adalah tentang katakan hitam adalah hitam katakan putih adalah putih, itu versi saya sendiri sih menyimpulkannya J jadi begini, jika dalam kehidupan sehari-hari kita menemui sesuatu yang salah ya katakan salah, ingatkan untuk diperbaiki lagi. Ga ada pemakluman karena itu akan menjadi kebiasaan yang menurunkan performa. Seperti misalnya kita menargetkan akan ada 100 peserta dalam suatu acara yang diselenggarakan oleh suatu UKM, jika yang hadir 70 orang ya jangan berkata ‘saya apresiasi karena yang datang sudah banyak’ tetapi katakan ‘tingkatkan usaha lagi karena targetnya 100 kan? Dan ini baru 70. Ayo cari yang 30 lagi!! ’. mengapa begitu? Bukankah pemakluman untuk jumlah yang hanya selisih sejumlah itu tidak masalah? Oh itu masalah. Akan menjadi kebiasaan jika hal itu menjadi keseharian mahasiswa. Jika ada kesalahan tindakan mahasiswa dalam suatu hal dan dimaklumi maka ia akan merasa bahwa dampak dari apa yang ia lakukan atau yang ia katakan itu tidak besar buktinya masih bisa dimaklumi.

Ketiga, pahami bahwa perubahan besar dimulai dari diri sendiri. Jika ada kuliah yang dosennya pasti terlambat masuk kelas lebih dari 30 menit maka ada sebagian mahasiswa yang mengundur jam berangkatnya sehingga tidak terlalu lama menunggu dosen. Itu kembali ke kita “kamu mau seperti itu ya terserah! Mengikuti dosen kamu yang seperti itu ya ga ap-apa. Tapi masa’ iya dosen sudah buruk kamu mau ikut-ikutan buruk. Apa bedanya kamu dengan dosen yang keterlambatannya kamu benci itu??” kalo dosen logpen bilangnya “pahami kalo hidup ini tidak adil. Saya dosen dan kalian mahasiswa, kalian baru saja masuk UI dan baru belajar selama 3 bulan sementara saya sudah lulus dari UI dari kapan tahu, melanjutkan S2 dan S3. Saya boleh terlambat tapi tidak dengan kalian. Kecuali kalau kalian melakukan hal yang sama untuk menyelesaikan s1, S2 dan S3 dan melamar menjadi dosen UI, bolehlah saat itu kita sejajar” appreciate nya buat beliau adalah bahwasanya kata-kata itu bukan omdo, jika kelas disepakati akan dimulai jam 2 tepat, maka saat jarum panjang menunjuk angka 12 dan jarum pendek di angka 2 beliau sudah di tempat.


Empat, mengenai aksi. Sekarang kita berpikir lebih terbuka. Mahasiswa berkata bahwa aksi bukan serta-merta dilakukan ketika adanya suatu kebijakan atau isu yang merugikan mahasiswa atau masyarakat. Tetapi dikaji terlebih dahulu oleh badan mahasiswa yang berhak, diadvokasi kepada pihak yang mempunyai otoritas mengenai kebijakan tersebut, diusahakan sampai benar-benar diperoleh hasil maksimal dan jika pihak otoritas tetap tidak bisa mengubah kebijakannya menjadi lebih baik untuk masyarakat maka mahasiswa akan turun ke jalan. Tapi bagaimana jika dengan demonstrasi pun tidak merubah kondisi? Kalangan yang kontra terhadap demonstrasi selalu berkata bahwa aksi turun ke jalan adalah perbuatan yang sia-sia, ada cara lain untuk menyelesaikan masalah tanpa harus turun ke jalan. (Tapi apa dan bagaimana?? Langkah yang real dan tidak mengawang-awang???) ‘Mahasiswa beraninya cuma teriak-teriak di jalan karena mereka mengatasnamakan kelompok besar, coba saja kalau di kelas, akankan mereka berani berpendapat layaknya aksi?.’ Kata salah seorang dosenkuJ. Kebetulan sebelumnya saya sangat berminat untuk turun ke jalan karena seperti lagu aksinya BEM UI Buruh Tani bahwa berjuta kali turun aksi bagiku suatu langkah pasti. Sebuah pendapat yang baru bisa saya terima adalah ‘buat apa mahasiswa turun ke jalan dan mengumpulkan massa banyak sementara kebanyakan dari mereka tidak mengetahui akar permasalahan yang akan mereka selesaikan secara detail? Apa modal mereka? Pengetahuan yang dangkal serta modal teriakan? ’. hmm, rumit memang. Yang ditakutkan adalah jika nantinya muncul orang-orang yang apatis menanggapi lemahnya kedua cara tersebut di atas, yakni orang yang berpikir “ya sudahlah, Negara Indonesia sudah terlalu banyak masalah, sudah sangat mengakar sehingga sulit diselesaikan”. Bagaimana jika semua mahasiswa berpendapat demikian? Hmm wassalam negeri ini. Padahal menurut inspiring speechnya UI SDP dikatakan bahwa jika Negara Indonesia diumpamakan mempunyai empat lilin, lilin pertama dianalogikan sebagai cinta dan itu sudah padam kemudian lilin kedua yaitu kedamaian yang semakin lama nyalanya semakin meredup hingga akhirnya padam kemudian disusul lilin ketiga yang dianalogikan sebagai iman yang sudah sangat luntur di negeri ini hingga nyalanya tak terlihat lagi, padam. maka sebenarnya masih ada satu lilin yang nyalanya pasti dapat menyalakan lilin-lilin yang lain. Dan lilin itu dianalogikan sebagai harapan. Negara Indonesia masih berhak untuk mempunyai harapan. Dan dengan harapan itu, perubahan itu sulit namun bisa tercapai. Pemikiran mengenai dua hal tersebut di atas, aksi ke jalan atau tidak aksi, tidak sepenuhnya salah. Jika kita dapat menentukan langkah nyata untuk keduanya, maka tak mustahil jika apa yang dilakukan sangat berpengaruh terhadap perubahan Indonesia menjadi lebih baik. Jika hati memang condong ke aksi mahasiswa, maka mari menciptakan demonstrasi yang efektif dan berkualitas. Jika lebih nyaman dengan tidak demonstrasi, mari lakukan langkah konkrit untuk menyelesaikan masalah, sehingga bukan Cuma teori saja. Semuanya adalah masalah keberanian memilih dan jika sudah memilih, bertanggungjawablah terhadap apa yang menjadi pilihanmu itu!

Rabu, 26 Januari 2011

23 Januari

23 Januari. Saatnya aku untuk pulang ke tanah rantau. Kota seribu perjuangan, kota sejuta impian dan semilyar langkah untuk meraih cita-cita. Kota yang tergantung kepadaku untuk bersahabat dengannya atau bermusuhan selamanya dengannya. Kota yang tidak akan memberiku kenyamanan jika aku tak menciptakannya, kota yang tak pernah akan memberiku kebahagiaan jika aku tak berusaha untuk menyambut kebahagiaan itu. Kota untuk berjuang, melaksanakan amanah orang tua, amanah Tuhan, amanah semua orang yang menyandarkannya di bahuku. Untuk berkontribusi, serius dalam belajar, peka terhadap kondisi bangsa, untuk membuat ilmuku bermanfaat di jalan yang diridhoi-Nya.

23 Januari saatnya aku tinggalkan kota kecil tempat aku dilahirkan, tempat aku dibesarkan, merasakan buaian lembut ibu serta nasihat berwibawa ayah, tempatku berbagi dengan adik-adik tercinta, mengenal teman sejak aku mulai bisa berjalan, memahami arti pertemanan, persahabatan dan persaudaraan, keajaiban untuk merasakan apa itu hidup dan mengapa perlu untuk berjuang. Kota sejuta kenangan, Sukoharjo tercinta. Dimana aku habiskan 16 tahun usiaku disana, menjalani hari demi hari dengan berbagai fatamorgananya, dengan berbagai spectrum cahayanya, menyilaukan, indah, penuh sensasi. Kota sejuta rajutan mimpi, karena disanalah pertama kalinya aku mengukir alur di lembaran usia kehidupanku, menyulam benang-benang jalan takdirku hingga terbaca sekarang, siapa aku. Seorang yang masih mempunyai banyak kewajiban, melaksanakan tugas penciptaanya, untuk menjadi pemimpin di muka bumi, untuk senantiasa menjadi orang yang berusaha, berjuang hingga akhirnya dikenang menjadi orang yang memberi manfaat, karena itulah aku harus pergi, meninggalkan kota kecil ini, kota penuh kenangan ini.
23 januari ini aku sampaikan pamitku kepada ayah ibu tercinta, mengatakan bahwa aku akan melanjutkan perjuanganku, yang sebelumnya telah aku jalani selama beberapa waktu, yang ternyata tidak semudah yang aku bayangkan, melanjutkan perjuangan yang sempat hampir terhenti karena lemahnya hati ini menghadapi kesendirian dan kerinduan. Perjuangan yang bagaimanapun caranya harus aku pertanggung jawabkan, perjuangan untuk meraih mimpiku yang telah aku lukis di kanvas kehidupanku yang lalu.

23 Januari aku kuatkan hati untuk menyusun kembali kepingan-kepingan janjiku yang sempat tercecer dan terlupakan karena kepayahanku menjaganya, untuk kembali aku susun menjadi janji yang utuh, untuk aku perjuangkan dalam menepatinya, 23 Januari aku charge semangatku, semangat menghadapi hari esok, kepercayaan akan kemampuan diri ini, mencharge muatan energy positif dalam hati dan otak ini, untuk lebih memandang baik apa yang aku hadapi, mencharge restu kedua orangtua yang selalu aku harapkan demi kemudahanku menapaki pematang-pematang kehidupan di hadapanku, mencharge kebahagiaan kebersamaan bersama adik-adikku. kehangatan bercengkerama dengan orang-orang “yang sangat baik” dalam hidupku, dialah saudaraku, saudara seperjuanganku di masa lalu hari ini, dan masa depan. membangkitkan kekuatan jiwa untuk tetap berkomitmen terhadap tekad pertama yang telah aku pilih.
23 Januari aku melihat derai air mata dari ibu tercinta yang entah mengapa sampai detik ini masih belum juga berhenti menangis ketika aku ucap kata pamit, butiran bening yang meluncur dari sudut matanya yang selalu membuatku menyesal kenapa begitu sering aku membuatnya menetes, betapa sering aku membuat suasana hatinya berubah menjadi gundah, oh ibu, maafkan aku.
23 Januari kulihat dengan kekuatannya ayah menjagaku dari orang-orang yang mungkin akan melukaiku. Mengantar keberangkatanku menuju tempatku menuntut ilmu dengan rasa sayangnya, melindungiku dan menasihatiku untuk menjaga diri di sana. Sebuah tempat yang begitu beragam, yang bisa saja menelanku mentah-mentah, yang bisa saja menggelincirkan jika aku tak berhati-hati dengannya. Sebuah tempat yang, jauh dari pandangan orangtuaku. Sebuah tempat yang dalam waktu cukup lama akan aku habiskan usiaku di sana. Yang akan menentukan berhasilkah aku?

Ya Allah aku titipkan keluargaku padaMu, jaga mereka, lindungi mereka, tunjukkan jalan terbaik pada mereka. Sampaikan sayangku pada mereka, ayah, ibu, adik-adik, sahabat-sahabatku. Dan Ya Rabb, aku serahkan hasil dari apa yang telah aku kerjakan setelah perjuanganku tidak bisa dikatakan ringan.
23 Januari, 23 Januari. Di saat aku harus siap dengan seabrek pekerjaan di hari esok, di saat aku harus realistis memandang masa depan, di saat tidak begitu dibutuhkan lagi teori yang sebatas teori, di saat semuanya membutuhkan kesungguhan, ketulusan, konsistensi, semangat juang yang tak gentar. Di saat hari esok masih menyambutku. Hari esok yang harus aku persiapkan menjadi hari yang jauh lebih baik dai hari ini. Hari esok, hari dimana aku membuktikan janjiku di hari ini.
Allah Tuhanku bimbinglah aku.


Aku dan mentari hari ini



Puji syukur kepada Allah yang telah memberiku kesempatan menemukan orang-orang hebat dalam hidupku, tumbuh dan berkembang bersama sahabat-sahabat yang senantiasa berusaha memperbaiki diri serta teman-teman dan keluarga baru yang selalu berusaha untuk produktif. Like that dan selalu berusaha untuk belajar, aku yang tak hanya menganggap kalian sebagai teladan tetapi juga dalam praktiknya, berusaha untuk ikut serta menjadi lebih baik dan produktif

Sahabat atau teman, mungkin hanya istilah yang mempunyai arti sama. Itu menurutku. Aku senang jika memilikinya dan selalu berusaha untuk mendapatkannya lagi dan lagi. Dimanapun aku berada dalam kondisi apapun. Masih aku memandang itu adalah istilah yang sama, yang pasti akan menolong jika ada teman yang membutuhkan serta selalu berusaha untuk memberi, daan begitulah. Akan tetapi ada satu istilah yang bisa dibilang unik aku tujukan kepada orang-orang yang dengan tulus memahamiku, menerima aku apa adanya, tidak menuntutku untuk ini dan itu, just for be myself namun tetap mengarahkanku untuk menjadi lebih baik lagi, yang peka terhadap apa yang menimpaku, selalu menikmati kebersamaan denganku tapi tak juga lepas dengan pertentangan dan perselisihan, hehe. Kondisi dimana adu argument sampai akhirnya didapatlah suatu kesepakatan. Yang tanpa disengaja mempunyai kesamaan dalam hal berpikir dan bertindak serta memiliki keterikatan hati yang erat, semua serasa indah bahkan jika lama tak jumpa yang dirasa adalah kerinduan mendalam serta deg-degan jika hendak bertemu. Siapakah gerangan?

Dia adalah orang-orang yang sangat baik dalam hidupku, hehe. Aku lebih suka memanggil mereka kayak gitu, karena lebih different . waah, hidupku indah dengan keberadaan mereka, serasa lebih berwarna dan penuh pelajaran. Untuk teman-teman yang sekarang udah berpisah karena hal yang jauh lebih penting dan memang sudah seharusnya untuk berpisah sejenak tetap aku harapkan kebaikan senantiasa Allah limpahkan kepada kalian. Kita tetaplah pengejar matahari yang selalu berusaha sekuat tenaga untuk melakukan yang terbaik dalam meraih apa yang menjadi keinginan kita. Saling mendukung apa yang kamu anggap baik di sana dan memberi doa untuk tetap berada dalam koridor meraih mimpimu. Love you so much.


Buat teman-teman baruku sangatlah aku harapkan kita dapat melangkah bersama menapaki tantangan hidup di lingkungan kita. Untuk mencapai target dan tujuan awal untuk apa kita disini. Untuk memaknai hidup dengan peran yang seharusnya kita mainkan dengan sebaik-baiknya. Menjadi orang yang bermanfaat untuk diri sendiri, lingkungan sekitar dan untuk agama serta bangsa Negara kita. Dengan tetap mengharap kaulah pembimbing jalan serta langkah yang aku tapaki. Memberi cerita dan pengalaman dari yang telah lalu, menghibur dan menguatkanku. Hehe, maunya..



*Ketika mentari hari lalu berganti dengan sinarnya hari ini
Kudapati segalanya berubah
Menjadi lebih berwarna
Lebih ceria
Dan ternyata lebih bias dan menipu
Kutapaki jalan di hadapanku dengan tetap berkiblat pada sesuatu di sana
Yang telah aku ukir sejak lama
Dan akan aku sempurnakan kelak jika sampai puncaknya
Kau yang dulu temaniku
Sampai kapanpun kan tetap di hatiku
Menjadi penyemangatku
Menjadi cinta terdalamku
Kau yang sekarang di sampingku
Kan kutapaki jalan ini denganmu
Moga cinta ku pun akan bersemi padamu

Kontribusi adalah Pilihan



Ya, memang begitulah adanya. Kontribusi adalah pilihan. Kau berhak memilihnya atau melewatkannya. Namun,,

Kontribusi, suatu tindakan untuk ikut serta bertindak aktif dengan mengoptimalkan kemampuan sesuai bidang dan kapasitas masing-masing yang dimaksudkan untuk memberi manfaat kepada masyarakat sekitar. Seorang siswa berkontribusi dengan belajar rajin, memahami setiap pelajaran sehingga nantinya akan lulus sekolah. 

Cukupkah demikian? 
Kontribusi nyata seorang siswa adalah dengan memahami setiap detik waktu dimana ia memperoleh berbagai mata pelajaran dengan diterapkan secara nyata di lingkungannya. Mulai mempunyai kesadaran untuk peka terhadap lingkungan dan menghargai waktu. Disiplin, jika guru memang terlambat masuk kelas kemudian para siswa kurang nyaman dengan hal itu, maka bertekadlah untuk tidak pernah melakukan hal tersebut bukannya justru “ah, hari ini pasti jam pelajaran akan tertunda beberapa menit, berangkatnya ikutan telat aja ah.” Suatu kebiasaan yang telah menjadi mindset siswa saat ini. Waktu tak akan terulang dan kesempatan tak akan datang dua kali. Menghargai waktu merupakan kewajiban yang harus semenjak dini dilatih (menasihati diri sendiri ). 

Menghargai waktu merupakan awal untuk menjadikan diri menjadi produktif. Melakukan kegiatan sesuai dengan waktu yang ditentukan, jika mendapat tugas yang dapat selesai dalam waktu satu hari kenapa harus mengahabiskan waktu satu minggu? Melatih kita untuk dari awal tidak korupsi bukan?

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Begitulah sabda nabi. Memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk memberikan hal-hal yang berguna bagi masyarakat sekitar. Kemampuan kita telah menjadi anugerah terindah dari Tuhan, jika Tuhan telah memberi kesempatan kita bisa bersekolah, jauh lebih beruntung dari teman-teman yang menginginkan sekolah namun tak tercapai. Masih enggankah kita memanfaatkan kesempatan itu untuk melaksanakan tugas sebagai tunas-tunas pembangun bangsa, dan bangsa ini hanya akan menjadi lebih baik jika dipimpin oleh generasi yang baik pula. So, mari bersemangat Kawan! Kenapa disini yang dibahas adalah siswa? Karena siswa berada di tingkat pendidikan dini, jika mereka sudah terbiasa terhadap hal-hal yang baik dan bertanggung jawab, maka jika kelak menjadi mahasiswa tak masalah jika mereka berkoar-koar mengkritisi kebijakan pemerintah dan jika menjadi pemimpin, semoga bisa menjadi pelopor, pemimpin yang menjadi teladan, pemimpin yang selalu berpikir untuk memberi dan melayani bukan meminta dan dilayani.

Setiap manusia yang menginginkan keberadaannya memberikan sesuatu yang berbeda sehingga diperlukan untuk dimintai pertimbangan maupun ide dalam suatu kegiatan., dimana kehadirannya menjadi suatu berkah, tentu adalah mereka yang mengabdikan diri secara total demi kepentingan masyarakat banyak. Sekali lagi itulah kontribusi. Kontribusi membuat setiap orang yang melakukannya merasa termotivasi karena memberikan values dan kepuasan berupa keberhasilan pencapaian target. Selain itu, jika setiap orang berkontribusi maka akan tercipta bangsa yang seimbang dan unggul dalam berbagai hal. Lalu apa yang menyebabkan masih ada yang enggan berkontribusi?

Enggan berkontribusi mungkin dikarenakan belum sadar saja terhadap apa yang harus dilakukan dengan posisinya saat ini. Siapapun kita, yakinlah bahwa kita mampu berbuat untuk kebaikan masyarakat, mengabdikan diri dan tidak berbuat zalim terhadap diri sendiri. Zalim terhadap diri sendiri di sini tidak diartikan sebagai suatu tindakan yang “dengan dua tangan, aku mengangkat sepuluh ember” tetapi suatu tindakan “dimana kedua tangan ini mampu membawa sepuluh ember tapi kita hanya membawa dua ember”. Kesimpulannya, jangan membatasi diri kita, Kawan! Mengaktualisasikan diri untuk memberi yang terbaik. Berusaha semaksimal mungkin, mengerahkan segenap tenaga dan pikiran, lawan kemalasan dan terus berjuang. “Karena dunia ini tak menyediakan ruang bagi orang yang dengan mudahnya mengasihani diri sendiri” (Pak Arif Munandar). Dan masih adakah yang menolak bahwa kontribusi adalah pilihan terbaik??




……….”Kami berbangga
ketika jiwa-jiwa kami gugur
sebagai penebus bagi kehormatan mereka,
jika memang tebusan itu yang diperlukan.
Atau menjadi harga
bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan,
dan terwujudnya cita-cita mereka,
jika memang itu harga yang harus dibayar.
Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini
Selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami,
Menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami,
Dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami”…………..
(idealisme kami)

January 13 in Memoriam… Dedicated to 5th generation of Accel SMANSA SKH



Sudah hampir sepekan aku kembali ke tanah asal tercinta di kota Sukoharjo di liburan kuliah semester pertama ini..

Dengan berbagai perasaan yang ditahan-tahan sampai akhirnya terluapkan juga rasa rindu mendalam kepada keluarga di sini.

Namun baru hari ini aku dapat meluangkan waktu untuk berkunjung ke SMA tercinta. Bukan karena tak ada waktu tapi karena ya kebetulan baru ada teman, hehe.(January 13)

Setiap sudut jalan yang aku lalui, sudut ruangan, berbagai tempat di kota tercinta memutar prosesor otakku untuk mengingat peristiwa-peristiwa setahun lalu. Dengan kalian tentunya kawan.
Suasana sore hari dengan hujan serta mendung menyelimuti mengingatkan pada banyaknya sore kita habiskan untuk bercengkerama tentang berbagai hal baik itu terkait dengan sekolah ataupun tidak sambil menunggu hujan reda.
Kelas kita tercinta telah disulap menjadi kelas yang begitu kondusif untuk pembelajaran, kawan. Proker kepsek untuk pengadaan perpustakaan dan loker udah berjalan, dispenser yang bersih dan selalu ada airnya, hehe, bahkan ada juga wastafel. Asik memang jika dibandingkan kelas regular. Betapapun berbedanya, otak ini tetap bisa mengingat memori selama 2 tahun kita menjadi penghuninya. Betapa berantakannya setiap kita selesai berulah, wah-wah..
Kawan, tak sengaja akupun mengunjungi tempat-tempat kita, walau tak sengaja ingatan ini tetap saja tertuju pada kenangan lalu.
Perpustakaan umum yang setidaknya seminggu sekali pasti kita kunjungi setiap mau berangkat les. Kolam kecil dan lahan parkir menjadi tempat yang paling banyak kenangannya. Kenapa? Entahlah.
Saat pulang di sore hari aku melewati masjid agung baiturahman, tetap saja ingatan itu kembali ke peristiwa-peristiwa lalu. Dimana kita menggunakan masjid itu untuk beribadat, untuk istirahat, untuk piknik, hehe.
Setiap sudut jalan di kota Sukoharjo sepertinya penuh dengan kenanganku bersama kalian. Karena mau kemana-mana lewatnya juga di jalan itu, ya sudahlah biarkan semuanya mengalir indah di otak sambil terus dicari hikmahnya. Aku susuri sambil menatap dengan penuh perasaan yang berkecamuk. Sedih, rindu, senang, kecewa, bahagia,entahlah. Semuanya bercampur manjadi satu. Menumpuk di hati yang membuatnya berdegup kencang yang aku pun tak mengerti pertanda apa hal itu. 


Sambil tetap fokus mengendalikan kedua stang motor hitam dengan gerimis yang sedikit-sedikit menerpa wajahku terlintas wajah kalian satu persatu. Indah sekali melihat senyum manis kalian yang tertuju padaku, meski hanya khayalan. Bahagia sekali mengingat tawa lepas kalian ketika keberhasilan menyapa salah satu dari kita. Teriakan histeris dan candaan yang selalu menghiasi berisiknya perbincangan di kelas. Subhanallah.
Barulah separo perjalanan pulang prosessor otak ini masih juga memutar kembali rekaman mulai pertama kali kita berjumpa. Ketika daftar ulang siswa aksel. Dengan seragam yang masih putih-biru tua. Dengan sok kenalnya kita udah bikin nama panggilan untuk masing-masing kita. Termasuk namaku, Rere yang berawal kala itu , Mimi untuk Mia tapi ga jadi. Chiki untuk Bintang, Ipeh untuklatifah yang akhirnya berubah menjadi Latibeb atau Ibe’, Vore untuk Dewi yang kemudian menjadi icuz, Benk2 untuk erlangga yang juga sering dipanggil Anggrek, Ucup untuk Yusuf, HTM untuk Hutomo yang juga biasa dipanggil Uut dan masih banyak lagi. Perjuangan kita untuk bersama-sama membuat atribut MOS yang keberhasilannya 5% doank mungkin, hahaha
Kemudian berjalan sampai pada tiap kali kita menerima pelajaran, makan bareng apalagi pas ada yang milad, praktikum IPA dengan jas kita, mapel olahraga yang menjadi mapel favorit karena kita gunakan sebagai ajang katarsis, hehe, kesenian dengan suka dukanya, haha, Fisika yang horor di awal namun enjoy esok dan seterusnya, PKn yang kadang bikin ngantuk (Kadang?? ), TIK yang asyik namun jadi bahasa planetnya Pak Abid dan Ucup (BTW, kok kemarin aku ga ketemu Pk Abid ya??)kimia, biologi, matematika yang kita berlomba-lomba dapat nilai perfect, hehe,Tekkim yang penuh dengan eksperimen, waw...

Kemudian teringat masa akan mengahadapi Ujian nasional dimana kita sering pula bertemu di tempat les, alfagama tempatnya pak Ranto yang penghuninya, lagi-lagi kelas aksel. Yang mana tiap beliau menjelaskan materi kita dibuat tak berdaya akan tipuan beliau (ups. Maksudnya keunikannya mengajar, hahaha) pak Untung dengan biologinya yang cap cus, pakdhe dengan fisikanya yang sering bikin otak kita berputar-putar 3600, hehehe, juga pak Ponco dengan kimianya yang mantap abis, o iya, mbak Anin yang dengan sabarnya membimbing kita di bahasa Inggris, hehe


Hmm, dimana lagi yaa??
O iya, masjid yang menjadi tempat favorit kita ketika dhuhur tiba atau juga plus plus dhuha ketika mendekati UAN, hehehehe. Kantin Mas Turnadi yang disambangi ketika hujan turun dengan genangan air di deket parkir utara, ouwh, yang karenanya juga jadi bolos fisika setengah jam, aduuuhhh. Kantin Pak Yadi yang teramat sangat favorit dengan menu nasi pecelnya, atau sotonya pas lagi pengen. Dengan jajanannya yang sering jadi konsumsi bersama di kelas. Black market yang menyediakan beraneka ragam makanan lezat harga terjangkau, haha. Yang dulunya jadi tempat favorit namun pernah juga jadi tempat yang menakutkan karena tiap kesana dan mendengar peluit Pak Abu jadi lari tunggang langgang, pernah juga kita foto-foto in itu tersangka pelaku jajan di BM (padahal kita juga jajan di sana, hehe), lagi, kamar mandi yang menjadi markas buat nyiapin kejutan kalo pengen guyur temen yang ultah atau jadi tempat ganti baju, daan lab biologi yang mana kita sering bereksperimen, yang paling ingat adalah uji hidroksidanya hati yang dihaluskan, hueekk, atau titrasinya di lab kimia,hehe. Oiya, perpustakaan yang jadi tempat favorit Mrs Dewi, hehe

Hmm, kawan, ingat pula tempat favorit buat kumpul kapanpun baik itu sebelum jam masuk, istirahat, jam kosong, pulang sekolah yaitu di depan kelas. Tempat yang nyaman yang bakal bikin kita lupa waktu, terlena dengan perbincangan panjang serta ga sadar kalo suara kita ganggu kelas sebelah, hahahaha (ssttt,,,, volumenyaaaaa!!!!! hahaha). Sssttt stooop! Emmm, mana lagi yaa??
Udah sih, di situ kan kita seringnyaa??
Kawan, aku pun teringat di saat kita ngerjain laporan biologi taauuu??? Juga laporan fisika yang dibikin serapi mungkin, hehe. Ulangan matematika yang hasilnya subhanallah yahud banget. Dan ulangan PKn sama fisika yang cukup menghasilkan nilai 3, 4, 5, astaghfirullah..
Oey aksel angkatan lima!! Lalu aku inget karya wisata kita yang ke Bandung, tapi kenapa cuma dikit yak? Ingetnya pas di hotelnya doang, pas di dufan kita pencar-pencar ga jelas gitu, hehehe. Pas ke Malang tuh banyak, terutama pas kita di kantor polisi Mojokerto, haha, asyik bener.. Aaahh, banyak deh kalo karya wisata.


Terus pas kita mulai ikut try out-try out gitu. Perdana TO STIS kan di Wonogiri? Tapi aku ga ikut, hehe. TO di sekolah, hmm. Dan UM-UM yang selalu kita bahas esok harinya. Uuh, kecewa, haha
Eemm, ke Sondokoro sebagai perayaan juaranya delano atas selai kulit semangka mereka dengan ditutup oleh menu pedas di RM mana yaa?? lupa, hehe. Sejak saat itu jadi sering deh kita saling mentraktir,. Ayo siapa yang beluuum??
Apa lagi yaa??
Kunjungan DPR? Ah ga asik, hehe





O iyaaaa,,,,,, Ujian Perkemahan 3 (UP 3) di lapangan Cemethuk,. Subhanallah, kitaaa, Ya Rabb (aku speechless nih,,,) kenapa? Karena di sana perasaanku tuh campur aduk. Kadang sebel karena kewajiban banyak, bangga karena kekompakan kita, karena keberhasilan kita memanfaatkan kulit singkong dan biji-bijian menjadi hasta karya yang subhanallah indahnya (PD bener).Terus dengan memasaknya kita dan betapa perhatiannya karena dikirim juga ke tenda putra, dengan barter teh tentunya. Si nepik sama Nour yang saling bertukar tusuk gigi (lhoh maksudnya??), giliran angkat-angkat air buat keperluan masak, sawut singkong kita sama puding singkongnya ucup dkk yang iuuhh, banyak tangan yang diragukan kesterilannya masuk di situ, hueekk. Juga teh kayumanisnya yang sedaaap sekali, hehe. Peraih tenda terbersih dan ter-rapi baik itu di tenda putra maupun putri (salut buat Resha, Bintang sama bank Aslul deh) dan yang ga bakal dilupain, aku yakin deh, adalah ketika kita pensi, awalnya mau dipisah kan? Tapi untungnya kita cuma ber 18, hehe. Dengan mengejar mataharinya Ari Lasso dan puisi yang kita sesuaiin syairnya akhirnya kita jadi juga yang terbaik, meski seri sih sama cowoknya ipa 4, hehe (jadi inget kata kak siapaaa gitu yang bilang, harusnya pensi yang dapet hadiahnya juga kalian, tapi masak kalian semua??)hahaha, berjaya deh kita. Moga aja ga lupa yah, wahai sang pengejar matahari??

Next sampai akhirya otak ini tertuju pada satu peristiwa yakni perpisahan dan pelepasan siswa SMA Negeri 1 Sukoharjo di Universitas Veteran Bantara Sukoharjo. Yah, meski ga lengkap sih karena Nour sama Bank Aslul harus ke Surabaya atau Semarang sih?? (seingetku tes PTN, PLN atau UNDIP gitu deh). Wah, cantik-cantik dan cakep yaa kita (Pd abis lagi??) hehe boleh dong… Disitu rasanyaa aneehhh sekali. Kenapa? Kalo aku sendiri sih karena udah mau lulus tapi belum dapet tempat di PTN, jadilah nangis gue. Hmm, kalian gimana waktu itu? Di saat kelas aksel ga ada yang masuk 10 besar terbaik se SMANSA, bagaimana ini??? Wuaaa, malu? Enggak tuh, hehe. Mulai dari pagi kita udah berangkat bareng-bareng dari rumah Ucup kan? Setiap tahapan acara kita lalui dengan perasaan yang sedih namun bahagia, sedih kenapa acaranya “perpisahan” coba?? Bahagia karena lulus UAN tentunya. Kita foto-foto gitu yaa? Ada yang berkesan ga sih? seingetku disitu kita ga terlalu eksis  cumaa kita kan dapet foto dengan jajaran petinggi SMANSA, dan sepulang itu kita kumpul dulu kan di rumah Ucup? Ngapain? Ngapain lagi kalo ga ngobrol? Hehe.
Next, ga puas sama perpisahan di SMA kita ngadain sendiri kan?? Hehe inget baget tuh diadain tanggal 23 Mei kan yaa?? (iyalah, tanggal 22 kan Mia ultah dan aku kan lagi tes UMB di UAD Yogya, hehe). Kalo pra acaranya yakin deh kalian lebih dapet taste-nya, secara kan aku ga bisa ikut tuh kerja bakti, angkat-angkat, lobi-lobi sampai ngambil bangku di lapak PKL di alun-alun, dan menginap di RM Bu Amir, hehehe. Dan berkat doa serta kerelaan hati kalian mengizinkanku untuk tidak ikut serta, akhirnya tesku berhasil. Thanks Sob. Tapii harus denger berita kalo pak sarimin dan pak Supri kaga bisa hadir? Hmm, so sad. Acara yang singkat tapi penuh makna, hehe. Mulai dari sambutan Erlangga, Habib, pembacaan doa oleh Amik, bapak Maryono sampai pada kesan pesan Bapak Ibu guru, hiburan dari pak dimas, bu dewi. Gimana yaa, hari itu tuh rasanyaa campur aduk, sedih karena acaranya juga perpisahan, dan lagi-lagi juga karena belum dapet PTN. Yap, akhirnya perpisahan akselerasi kala itu selesai sudah lah. Wah, sekarang benar-benar kita dilepas dari SMA juga dilepas dari akselerasi.

Kawan, masih banyaak sekali peristiwa yang tidak aku tuliskan disini. Peristiwa-peristuwa yang aku yakin pasti berkesan di hati kalian, bermakna dan tak mudah pudar dari memori. Terkenang dan bisa jadi menghibur di kala sedih atau juga menambah larutnya kalian menangis ketika merasakan kerinduan itu. Kawan, aku yakin dalam diri masing-masing kita menghargai apa yang sudah kita jalani, menghargai apa yang kita namakan pertemanan, persahabatan, persaudaraan di akselerasi angkatan lima. Dalam hati terdalam kita pasti terbayang bagaimana kita di masa depan, sempat timbul suatu kekhawatiran akankah ada waktu bagi kita untuk berjumpa lagi, dalam keadaan yang lengkap tentunya, berdelapan belas dengan senyum terkembang dari wajah kita yang semoga saja berseri-seri, namun muncullah secercah cahaya yang menguatkan dan menghibur, bahwa kita, 5th generation of accel adalah jiwa-jiwa yang memiliki komitmen terhadap apa yang ingin kita raih. Bukankah sejak dulu kita telah merajut mimpi bahwa kelak kita akan dipertemukan dalam keadaan tiap-tiap kita telah meraih kesuksesan, bukankah kita juga telah merencanakan untuk membuka dan membaca serta menyeleksi apakah impian kita tercapai di kapsul waktu kita sepuluh tahun lagi? Dengan suatu komitmen yang mengantarkan kita untuk tetap gigih berusaha meraih cita-cita kita, menjadi orang sukses, orang bermanfaat dan membahagiakan Tuhan serta orang-orang di sekitar kita. Meraih agungnya nikmat Tuhan, terus menapak sampai tak ada jalan untuk ditapaki.
Terus berjuang kawan, di jalan kita masing-masing. Karena berawal dari satu titik, kita akan menyebar manfaat ke seluruh penjuru mata angin, memberikan warna-warna yang indah bagi dunia kita, sampai terbentuk kombinasi yang eksotis, itulah kita. Dengan berbagai Perguruan Tinggi, berbagai program studi, jadilah kita optimal di bidang kita, memahami dengan keikhlasan dan semangat tentunya. Tetaplah berbagi cerita, karena pengalamanmu adalah pelajaran hidup bagi yang lain. Karena ceritamu adalah gambaran bagi yang lain untuk menjalani hidup. Semangat di saat sendiri, menyemangati di saat bersama, karena mood baik itu juga menular. Selalu sebarkan energy positif 

13 Januari telah sampai di senjanya, waktunya aku pulang dengan terlebih dahulu maen ke rumah Amik. 13 Januari yang aku rasakan seperti mengulang sepenggal kisah kita di masa lalu. Kisah yang indah dan akan terus tetap berlanjut keindahannya,. Karena kita 5th generation of Accel.. Love U and Miss U all my friends. Now, till the end of my time.


Pure love for my beloved friends: Amik Agisti, Bintang Riski Pangestika, Dewi Kusumawati, Dinar Wisnu Wardhani, Dyah Ayu Kusuma Wardani, Erlangga Maharesi, Hutomo Adhi, Latifah Safriana, Mariana Ulfa, Mia Putri Melani, Nasrul Arfianto, Nourma Mei Shinta, Nur Rahma Fauziah, Pristiawan Navy Endraputra, Resha Gracika Susanto, Seto Margo Pramono, Yusuf Taufiq Hidayad.